NAMA LAIN MANUSIA DAN SEBUTANNYA



KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa, kami panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah sehingga makalah ini dapat diselesaikan untuk persyaratan mengikuti kegiatan presentasi dan untuk mengisi nilai tugas pada mata kuliah Pendidikan Agama Islam.
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini penulis mempunyai tujuan untuk menambah pengetahuan yang dimiliki para mahasiswa/i.
Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan dosen pembimbing, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. Penulis menyadari bahwa makalah ini belum sempurna.Oleh karna itu penulis meminta saran dan kritik yang membangun dari para pembaca yang sangat dibutuhkan untuk penyempurnaan makalah.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah membantu kami selama pembuatan makalah ini berlangsung sehingga terselesaikan makalah ini.
Dengan demikian, penulis berharap semoga makalah berjudul “Manusia Menurut Pandangan Islam” dapat bermanfaat dan dapat memberikan wawasan yang luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca, sehingga dapat memberikan inspirasi terhadap pembaca.


                                                                                                Jakarta,    Mei 2017


                                                                                                            Penulis
DAFTAR ISI

Halaman
KATA PENGANTAR .................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang.......................................................................................... 1
B.     Masalah...................................................................................................... 3
C.     Tujuan .......................................................................................................  3
D.    Manfaat..................................................................................................... 3
BAB II MANUSIA MENNURUT PANDANGAN ISLAM
A.      Kejadian Manusia Menurut Teori Evolusi ................................................ 4
1.         Teori Evolusi dan Revolusi Menurut Teori Para Ahli dan
Ilmu Antropologi................................................................................ 4
2.         Teori Revolusi Menurut Pandangan Islam ........................................ 11
B.       Visi dan Misi Penciptaan Manusia............................................................ 15
1.      Visi Penciptaan Manusia..................................................................... 15
2.      Misi Penciptaan Manusia..................................................................... 16
a.       Beribadah Kepada Allah Secara Tulus.......................................... 19
b.      Bekerja Dengan Landasan Moral Agama...................................... 20
c.       Membangun Keluarga Yang Islami............................................... 21
d.      Membangun Masyarakat Bermoral................................................ 22
e.       Memelihara Kesehatan Pribadi ..................................................... 22
C.       Sebutan Nama Lain Manusia dalam Al-Quran dan Keistimewaannya..... 23
Nama Lain
1.      Sebutan Nama Lain Manusia
a.       Al-Insan......................................................................................... 23
b.      Al-Basyar....................................................................................... 24
c.       Bani Adam.................................................................................... 26
d.      An-Nas.......................................................................................... 27
e.       ‘Abdun.......................................................................................... 28
2.      Keistimewaan Manusia
a.       Manusia sebagai ciptaan yang tertinggi dan terbaik ................... 31
b.      Manusia diistimewakan dan dimuliakan oleh Allah.................... 31
c.       Mendapatkan tugas mengabdi.................................................... 32
d.      Mempunyai peranan sebagai khalifah......................................... 32
e.       Untuk melaksanakan tugas dan peranannya guna mencapai tujuan hidupnya manusia diberi peraturan hidup........................................................................................... 33
D.    Tanggung Jawab Manusia ........................................................................ 33
1.      Tanggung jawab terhadap dirinya sendiri.......................................... 36
2.      Tanggung jawab terhadap keluarga.................................................... 36
3.      Tanggung jawab terhadap masyarakat............................................... 36
4.      Tanggung jawab terhadap Bangsa / Negar7....................................... 36
5.      Tanggung jawab terhadap Tuhan....................................................... 37
E.     Kedudukan Harkat dan Martabat Manusia............................................... 37
BAB III PENUTUP
A.    Kesimpulan................................................................................................ 39
B.     Saran.......................................................................................................... 40
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN




BAB 1

PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk yang sangat menarik. Oleh karena itu, manusia sering menjadi perbincangan di berbagai kalangan. Hampir semua lembaga pendidikan tinggi mengkaji manusia, karya, dan dampak dari karya-karyanya terhadap dirinya sendiri, masyarakat, dan lingkungan tempat tinggalnya.
Indonesia merupakan negara yang religius dan memiliki toleransi yang tinggi.Hal ini terbukti dengan banyaknya agama yang berkembang di Indonesia dan rukunnya kehidupan antarumat berbeda agama di Indonesia.Islam adalah salah satu agama yang berkembang di Indonesia dan mayoritas penduduk Indonesia merupakan pemeluk agama Islam. Islam mengajarkan umatnya untuk saling berbagi dan menyayangi satu sama lain, membantu siapapun yang memerlukan bantuan termasuk umat beda agama. Di mata Allah SWT, semua manusia adalah sama. Amal dan ibadahnyalah yang membedakan derajat seorang manusia dengan manusia lain.
Berbicara tentang manusia dan agama dalam Islam adalah membicarakan sesuatu yang sangat klasik namun senantiasa aktual. Berbicara tentang kedua hal tersebut sama saja dengan berbicara tentang kita sendiri dan keyakinan asasi kita sebagai makhluk Tuhan.
Pemikiran tentang hakikat manusia sejak zaman dahulu kala sampai zaman modern sekarang ini juga belum berakhir dan mungkin tak akan pernah berakhir. Ternyata orang menyelidiki manusia itu dari berbagai sudut pandang.Ada yang menyelidiki manusia dari segi fisik yaitu antropologi fisik, adapula yang menyelidiki dengan sudut pandang budaya yaitu antropologi budaya.Sedangkan yang menyelidiki manusia dari sisi hakikatnya disebut antropologi filsafat.
Kehadiran manusia tidak terlepas dari asal usul kehidupan di alam semesta.Manusia hakihatnya adalah makhluk ciptaan Allah SWT. Pada diri manusia terdapat perpaduan antara sifat ketuhanan dan sifat kemakhlukan.Dalam pandangan Islam, sebagai makhluk ciptaan Allah SWT manusia memiliki tugas tertentu dalam menjalankan kehidupannya di dunia ini.Untuk menjalankan tugasnya manusia dikaruniakan akal dan pikiran oleh Allah SWT. Akal dan pikiran tersebut yang akan menuntun manusia dalam menjalankan perannya. Dalam hidup di dunia, manusia diberi tugas kekhalifaan, yaitu tugas kepemimpinan, wakil Allah di muka bumi, serta pengelolaan dan pemeliharaan alam.
Memikirkan dan membicarakan hakikat manusia inilah yang menyebabkan orang tak henti-hentinya berusaha mencari jawaban yang memuaskan tentang pertanyaan yang mendasar tentang manusia itu sendiri, yaitu apa dari mana dan mau kemana manusia itu.
Kehadiran manusia yang pertama tidak terlepas dari asal usul kehidupan dialam semesta ini. Menurut ilmu pengetahuan, asal usul manusia tidak bisa dipisahkan dari teori tentang spesies baru yang berasal dari spesies lain yang telah ada sebelumnya melalui proses evulusi. Teori yang diperkenalkan Darwin pada abad 19 telah menimbulkan kepanikan, terutama kalangan gereja dan dan ilmuan yang berpaham teori kreasi khusus.Sejak saat itulah terjadi pro dan kontra tentang asal usul manusia, sebagian menerima dan sebagian lagi menolaknya.
Teori evolusi berpengaruh pula pada bidang ilmu pengetahuan lainnya, termasuk psikologi yang objeknya manusia.Pengikut Darwin dalam hal ini adalah Sigmund Freud yang mengatakan bahwa manusia berkembang dari tahapan evolusi yang sederhana hingga tahapan yang kompleks.Manusia sebagai salah satu makhluk yang hidup dimuka bumi yang memiliki karakter yang unik.Memang secara fisik manusia tidak begitu berbeda dengan binatang. Namun yang paling berbeda antara manusia dan makhluk lain adalah terletak pada kemampuannya melahirkan kebudayaan.



B.     Rumusan Masalah
1.      Bagaimana kejadian manusia menurut teori evolusi dan revolusi (wahyu)?
2.      Apakah visi dan misi penciptaan manusia?
3.      Apa sajakah sebutan nama lain manusia dalam Al-Quran? Lalu, bagaimanakah keistimewaannya?
4.      Bagaimana tanggung jawab manusia pada dirinya, keluarga, masyarakat, dan agama?
5.      Bagaimana kedudukan harkat dan martabat manusia?

C.    Tujuan
1.      Untuk mengetahui kejadian manusia menurut teori evolusi dan revolusi (wahyu).
2.      Untuk mengetahui visi dan misi penciptaan manusia.
3.      Untuk mengetahui sebutan nama lain manusia dalam Al-Quran dan keistimewaannya.
4.      Untuk mengetahui tanggung jawab manusia pada dirinya, keluarga, masyarakat, dan agama.
5.      Untuk mengetahui kedudukan harkat dan martabat manusia.

D.    Manfaat
1.      Agar mengetahui kejadian manusia menurut teori evolusi dan revolusi (wahyu).
2.      Agar mengetahui visi dan misi penciptaan manusia.
3.      Agar mengetahui sebutan nama lain manusia dalam Al-Quran dan keistimewaannya.
4.      Agar mengetahui tanggung jawab manusia pada dirinya, keluarga, masyarakat, dan agama.
5.      Agar mengetahui kedudukan harkat dan martabat manusia.


BAB 2
MANUSIA MENURUT PANDANGAN ISLAM

A.    Kejadian Manusia Menurut Teori Evolusi
1.         Teori Evolusi  Menurut Teori Para Ahli dan Ilmu Antropologi
Pada abad ke-19, dunia ilmu pengetahuan diguncang oleh temuan baru yang kontroversial, yaitu Teori Evolusi.
Teori ini mengemukakan bahwa jenis manusia ada dimuka bumi ini melalui suatu proses evolusi yang panjang. seperti teorinya, pencetus teori ini hingga beberapa waktu yang lalu masih menjadi bahan perdebatan para ilmuwan
hingga tahun 2008, hanya satu nama yang diakui sebagai pencetus tori evolusi, yaitu Charles robert Darwin (1809 - 1882).[1]
Pada tahun 1859, Darwin mengemukakan teori evolusi nya melalui On The Origin Of Species : Survival of The Fittest by Means of natural Selection yang terbit pada tahun yang sama. Buku ini dipercaya sebagai buku pertama yang menjelaskan tentang teori evolusi, yang menyatakan bahwa makhluk hidup selalu menyesuaikan diri dengan lingkungan alamiahnya yang terus berubah.makhluk yang paling dapat menyesuaikan diri itulah yang akan survive dan berkembang menjadi makhluk yang lebih konpleks atau lebih tinggi tingkatannya. sedangkan makhluk yang tidak dapat menyesuaikan dengan lingkungan alamiahnya akan punah dengan sendirinya.Jadi, menurut teori evolusi, makhluk berevolusi dari jenis organisme yang paling sederhana (mikroba uniseluler) hingga makhluk yang kompleks (multiseluler) dalam kurun waktu ratusan juta tahun.
Namun seiring berjalannya waktu, muncul nama lain yang dipercaya sebagai pencetus sesungguhnya dari teori evolusi ini, atau setidaknya sebagai kopencetus Darwin, dia adalah Alfred Russel Wallace (1823-1913).[2]
Wallace-lah yang pertama kali memakai kata Survival of the fittest dalam esainya yang berjudul on the Tendency of Organism to Depart from the Original Type. Esai ini diterbitkan pada tahun 1858, setahun sebelum terbitnya buku Charles Darwin.Esai ini pula yang dikirimkan Wallace dari Ternate kepada Darwin pada tahun 1858, yang kemudian dikenal sebagai Letter from Ternate, karena pada waktu itu Wallace melakukan penelitiannya di Ternate. Berdasarkan penelusuran sejarah dan bukti-bukti yang ada, pada tahun 2009, dunia ilmu pengetahuan akhirnya setuju bahwa kedua orang itu, yakni Darwin dan Wallace dinyatakan sebagai penemu bersama Teori Evolusi.
Menurut Teori Evolusi, keberadaan manusia dimuka bumi tidak begitu saja muncul, dinyatakan dalam teori ini bahwa dibutuhkan waktu jutaan tahun untuk proses evolusi yang salah satunya berujung pada terbentuknya manusia. Ini adalah salah satu penjelasan dari prosesnya saja, sedangkan teorinya sendiri tidaklah demikian. Berikut ini urutan kejadian manusia menurut teori evolusi.
Pada permulaan kehidupan, bentuk kehidupan yang berupa mikroorganisme (makhluk renik) uniseluler dengan inti sel yang belum sempurna (prokaryotik unicelluler microorganisme).Dengan berjalannya waktu dan adanya seleksi alam, sedikit demi sedikit mikroorganisme uniseluler berevolusi menjadi mikroorganisme multiseluler kemudian berlanjut menjadi mikroorganisme multiseluler dengan inti sel yang sempurna (eukaryotik multicelluler microorganisme). Evolusi selanjutnya akan memunculkan tumbuhan tingkat rendah, seperti ganggang (alga) atau jamur yang pada tahap selanjutnya berevolusi menjadi tumbuhan tingkat tinggi.
Dari evolusi mikroorganisme menjadi tumbuhan, ada percabangan karena mutasi yang sukses menjadi bentuk hewan tingkat rendah, yang kemudian menjadi hewan tingkat tinggi.Kemudian muncul binatang-binatang tingkat tinggi dan berukuran lebih besar. Dengan tidak sengaja, dari salah satu binatang, muncullah manusia. Hal ini dibuktikan dengan adanya sederet bukti berupa tengkorak hewan yang secara runut mengarah ke tengkorak manusia saat ini.
Bukti lain yang juga dikemukakan untuk mendukung teori ini adalah perkembangan bentuk embrio berbagai jenis binatang. Dalam perkembangannya, embrio manusia berubah-ubah bentuk, dimulai dari serupa embrio ikan, kelinci dan binatang lainnya, dan berakhir pada bentuk manusia.
Darwin mengajukan penyataannya bahwa manusia dan kera berasal dari satu nenek moyang yang sama dalam bukunya The Descent of Man, terbitan tahun 1871. Sejak saat itu hingga sekarang, para pengikut jalanDarwin telah mencoba mendukung pernyataannya.Tetapi meskipun berbagai penelitian telah dilakukan, pernyataan mengenai "evolusi manusia" tidak didukung oleh penemuan ilmiah yang nyata, khususnya dalam hal fosil.
Kebanyakan masyarakat awam tidak menyadari kenyataan ini, dan berfikir bahwa pernyataan evolusi manusia didukung oleh banyak bukti yang kuat.Penyebab adanya opini yang keliru ini adalah bahwa permasalahan ini sering dibahas dalam media dan dihadirkan sebagai fakta yang terbukti.Tetapi yang benar-benar ahli dalam masalah ini menyadari bahwa tidak ada landasan ilmiah bagi pernyataan evolusi manusia. David Pilbeam, ahli paleoanthropologi dariHarvard University, mengatakan: “Jika Anda mengundang seorang ilmuwan dari bidang ilmu yang lain dan menunjukkan padanya sedikitnya bukti yang kita miliki iatentu akan mengatakan, "Lupakan saja; itu tidak cukup untuk diteruskan.”
Dan William Fix, seorang penulis sebuah buku penting dalam bidang paleoanthropologi, berkomentar: “Seperti yang telah kita lihat, ada banyak ilmuwan dan orang-orang populer saat ini yang memiliki nyali untuk mengatakan bahwa ‘tidak ada keraguan’ tentang bagaimana manusia berasal. Jika saja mereka memiliki bukti.”
Tetapi apakah landasan gagasan evolusi manusia yang diajukan oleh para evolusionis?Ialah adanya banyak fosil yang dengannya para evolusionis bisa membangun tafsiran-tafsiran khayalan.Sepanjang sejarah, telah hidup lebih dari 6.000 spesies kera, dan kebanyakan dari mereka telah punah.Saat ini, hanya 120 spesies yang hidup di bumi. Enam ribu atau lebih spesies kera ini, di mana sebagian besar telah punah, merupakan sumber yang melimpah bagi evolusionis.Pernyataan evolusi ini, yang "miskin akan bukti," memulai pohon kekerabatan manusia dengan satu kelompok kera yang telah dinyatakan membentuk satu genus tersendiri, Australopithecus. 
Menurutpernyataan ini, Australopithecus secara bertahap mulai berjalan tegak, otaknya membesat, dan ia melewati serangkaian tahapan hingga mencapai tahapan manusia sekarang (Homo sapiens). Tetapi rekaman fosil tidak mendukung skenario ini.Meskipun dinyatakan bahwa semua bentuk peralihan ada, terdapat rintangan yang tidak dapat dilalui antara jejak fosil manusia dan kera. Lebih jauh lagi, telah terungkap bahwa spesies yang digambarkan sebagai nenek moyang satu sama lain sebenarnya adalah spesies masa itu yang hidup pada periode yang sama. Ernst Mayr, salah satu pendukung utama teori evolusi abad ke-20, berpendapat dalam bukunya One Long Argument bahwa "khususnya [teka-teki] bersejarah seperti asal usul kehidupan atau Homo sapiens, adalah sangat sulit dan bahkan mungkin tidak akan pernah menerima penjelasan akhir yang memuaskan."
Di lain pihak, terdapat perbedaan yang berarti dalam susunan anatomi berbagai ras manusia. Terlebih lagi, perbedaannya semakin besar antara ras prasejarah, karena seiring dengan waktu ras manusia setidaknya telah bercampur satu sama lain dan terasimilasi. Meskipun demikian, perbedaan penting masih terlihat antara berbagai kelompok populasi yang hidup di dunia saat ini, seperti, sebagai contoh, ras Scandinavia, suku pigmi Afrika, Inuits, penduduk asli Australia, dan masih banyak lagi yang lain.
Tidak terdapat bukti untuk menunjukkan bahwa fosil yang disebut hominid  oleh ahli paleontologi evolusi sebenarnya bukanlah milik spesies kera yang berbeda atau ras manusia yang telah punah. Dengan kata lain, tidak ada contoh bagi satu bentuk peralihan antara manusia dan kera yang telah ditemukan.
Pernyataan Darwin mendukung bahwa manusia modern berevolusi dari sejenis makhluk yang mirip kera. Selama proses evolusi tanpa bukti ini, yang diduga telah dimulai dari 5 atau 6 juta tahun yang lalu, dinyatakan bahwa terdapat beberapa bentuk peralihan antara manusia moderen dan nenek moyangnya. Menurut skenario yang sungguh dibuat-buat ini, ditetapkanlah empat kelompok dasar sebagai berikut:
a.       Australophithecines (berbagai bentuk yang termasuk dalam genus Australophitecus)
b.      Homo habilis
c.       Homo erectus
d.      Homo sapiens
Genus yang dianggap sebagai nenek moyang manusia yang mirip kera tersebut oleh evolusionis digolongkan sebagai Australopithecus, yang berarti "kera dari selatan." Australophitecus, yang tidak lain adalah jenis kera purba yang telah punah, ditemukan dalam berbagai bentuk. Beberapa dari mereka lebih besar dan kuat (tegap), sementara yang lain lebih kecil dan rapuh (lemah).
Para evolusionis menggolongkan tahapan selanjutnya dari evolusi manusia sebagai genus Homo, yaitu "manusia."Menurut pernyataan evolusionis, makhluk hidup dalam kelompok Homo lebih berkembang daripadaAustralopithecus, dan tidak begitu berbeda dengan manusia moderen.Manusia moderen saat ini, yaitu spesies Homo sapiens, dikatakan telah terbentuk pada tahapan evolusi paling akhir dari genus Homo ini. Fosil seperti "Manusia Jawa," "Manusia Peking," dan "Lucy," yang muncul dalam media dari waktu ke waktu dan bisa ditemukan dalam media publikasi dan buku acuan evolusionis, digolongkan ke dalam salah satu dari empat kelompok di atas. Setiap pengelompokan ini juga dianggap bercabang menjadi spesies dan sub-spesies, mungkin juga.Beberapa bentuk peralihan yang diusulkan dulunya, seperti Ramapithecus, harus dikeluarkan dari rekaan pohon kekerabatan manusia setelah disadari bahwa mereka hanyalah kera biasa.
Akan tetapi, penemuan terbaru ahli paleoanthropologi mengungkap bahwa australopithecines, Homo habilis danHomo erectus hidup di berbagai tempat di bumi pada saat yang sama. Lebih jauh lagi, beberapa jenis manusia yang digolongkan sebagai Homo erectuskemungkinan hidup hingga masa yang sangat modern. Dalam sebuah artikel berjudul "Latest Homo erectus of Java: Potential Contemporaneity with Homo sapiens ini Southeast Asia," dilaporkan bahwa fosil Homo erectus yang ditemukan di Jawa memiliki umur rata-rata 27 ± 2 hingga 53.3 ± 4 juta tahun yang lalu dan ini memunculkan kemungkinan bahwa Homo erectus hidup semasa dengan manusia beranatomi modern (Homo sapiens) di Asia tenggara
Lebih jauh lagi, Homo sapiens neanderthalensis (manusia Neanderthal) dan Homo sapiens sapiens (manusia moderen) juga dengan jelas hidup bersamaan. Hal ini sepertinya menunjukkan ketidakabsahan pernyataan bahwa yang satu merupakan nenek moyang bagi yang lain.
Pada dasarnya, semua penemuan dan penelitian ilmiah telah mengungkap bahwa rekaman fosil tidak menunjukkan suatu proses evolusi seperti yang diusulkan para evolusionis. Fosil-fosil, yang dinyatakan sebagai nenek moyang manusia oleh evolusionis, sebenarnya bisa milik ras lain manusia atau milik spesies kera. Pernyataan bahwa Australopithecus dan Homohabilis berjalan tegak dibantah oleh analisis telinga dalam yang dilakukan oleh Fred Spoor. Ia bersama kelompoknya membandingkan pusat-pusat keseimbangan di telinga dalam, dan menunjukkan kedua spesies bergerak dengan cara yang sama seperti kera masa kini.
Alan Thorne dan Philip Macumber yang menemukan kedua tengkorak ini, menafsirkan keduanya sebagai tengkorak Homo sapiens, padahal keduanya memiliki banyak ciri yang mengingatkan kita pada Homo erectus. Satu-satunya alasan mengapa keduanya dianggap Homo sapiens adalah fakta bahwa keduanya diperkirakan berumur 10 ribu tahun. Para evolusionis tak berharap menerima fakta bahwa Homo erectus, yang mereka anggap sebagai spesies "purba" dan hidup 500 ribu tahun sebelum manusia masa kini, adalah suatu ras manusia yang hidup 10 ribu tahun yang lalu.
Kebudayaan Berlayar Homo erectus "Ancient mariners: Early humans were much smarter than we suspected " (Pelaut purba: manusia kuno lebih pintar dari yang kita sangka). Menurut artikel New Scientist terbitan 14 Maret 1998 ini, manusia yang dinamai Homo erectus oleh evolusionis, telah melakukan pelayaran sejak 700 ribu tahun yang lalu. Tentu saja, mustahil menganggap manusia yang mempunyai pengetahuan, teknologi, dan budaya berlayar sebagai purba.

Sebuah tulang muka yang ditemukan di Atapuerca di Spanyol, menunjukkan bahwa manusia dengan struktur wajah yang sama dengan kita telah hidup pada 800 ribu tahun yang lalu.Jejak kaki manusia yang berumur 3,6 juta tahun di Laetoli, Tanzania.
Manusia berasal dari kera yang mengalami proses panjang hingga menjadi bentuk yang sempurna. Disamping itu juga manusia memiliki akal pikiran yang tidak dimiliki oleh makhluk ciptaan Tuhan lainnya. Manusia  dengan segala anugerah yang dimiliknya seharusnya lebih menghargai ciptaan Tuhan. Kita patut berbangga menjadi manusia yang mempunyai akal pikiran.   
2.      Teori Revolusi Menurut Pandangan Islam
Asal Mula Manusia berdasarkan Al-Qur’an (Nabi Adam a.s) Saat Allah Swt. merencanakan penciptaan manusia, ketika Allah mulai membuat “cerita” tentang asal-usul manusia, Malaikat Jibril seolah khawatir karena takut manusia akan berbuat kerusakan di muka bumi. Di dalam Al-Quran, kejadian itu diabadikan:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya, Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk.Maka, apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud” (QS. Al Hijr: 28-29).
Firman inilah yang membuat malaikat bersujud kepada manusia, sementara iblis tetap dalam kesombongannya dengan tidak melaksanakan firman Allah.Inilah dosa yang pertama kali dilakukan oleh makhluk Allah yaitu kesombongan.Karena kesombongan tersebut Iblis menjadi makhluk paling celaka dan sudah dipastikan masuk neraka.Kemudian Allah menciptakan Hawa sebagi teman hidup Adam.Allah berpesan pada Adam dan Hawa untuk tidak mendekati salah satu buah di surga, namun Iblis menggoda mereka sehingga terjebaklah Adam dan Hawa dalam kondisi yang menakutkan.[3]Allah menghukum Adam dan Hawa sehingga diturunkan kebumi dan pada akhirnya Adam dan Hawa bertaubat.Taubat mereka diterima oleh Allah, namun Adam dan Hawa menetap dibumi.
Adam adalah ciptaan Allah yang memiliki akal sehingga memiliki kecerdasan, bisa menerima ilmu pengetahuan dan bisa mengatur kehidupan sendiri. Inilah keunikan manusia yang Allah ciptakan untuk menjadi penguasa didunia, untuk menghuni dan memelihara bumi yang Allah ciptakan.Dari Adam inilah cikal bakal manusia diseluruh permukaan bumi.Melalui pernikahannya dengan Hawa, Adam melahirkan keturunan yang menyebar ke berbagai benua diseluruh penjuru bumi; menempati lembah, gunung, gurun pasir dan wilayah lainnya diseluruh penjuru bumi. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT yang berbunyi: “Dan sesungguhnya Kami muliakan anak-anak Adam; Kami angkut mereka didaratan dan di lautan; Kami berikan mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyak makhluk yang telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra’ [17]: 70).
Al-Qur’an menyatakan proses penciptaan manusia mempunyai dua tahapan yang berbeda, yaitu: Pertama, disebut dengan tahapan primordial. Manusia pertama, Adam a.s. diciptakan dari al-tin (tanah), al-turob (tanah debu), min shal(tanah liat), min hamain masnun (tanah lumpur hitam yang busuk) yang dibentuk Allah dengan seindah-indahnya, kemudian Allah meniupkan ruh dari-Nya ke dalamA diri (manusia) tersebut (Q.S, Al An’aam (6):2, Al Hijr (15):26,28,29, Al Mu’minuun (23):12, Al Ruum (30):20, Ar Rahman (55):4). 
Kedua, disebut dengan tahapan biologi. Penciptaan manusia selanjutnya adalah melalui proses biologi yang dapat dipahami secara sains-empirik. Di dalam proses ini, manusia diciptakan dari inti sari tanah yang dijadikan air mani (nuthfah) yang tersimpan dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian nuthfah itu dijadikan darah beku (‘alaqah) yang menggantung dalam rahim. Darah beku tersebut kemudian dijadikan-Nya segumpal daging (mudghah) dan kemudian dibalut dengan tulang belulang lalu kepadanya ditiupkan ruh (Q.S, Al Mu’minuun (23):12-14). Hadits yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim menyatakan bahwa ruh dihembuskan Allah swt.ke dalam janin setelah ia mengalami perkembangan 40 hari nuthfah, 40 hari ‘alaqah dan 40 hari mudghah.
Penciptaan manusia dan aspek-aspeknya itu ditegaskan dalam banyak ayat. Beberapa di antaranya sebagai berikut:
a.       Manusia tidak diciptakan dari mani yang lengkap, tetapi dari sebagian kecilnya (spermazoa).
b.      Sel kelamin laki-lakilah yang menentukan jenis kelamin bayi.
c.       Janin manusia melekat pada rahim sang ibu bagaikan lintah.
d.      Manusia berkembang di tiga kawasan yang gelap di dalam rahim.
e.       Setetes Mani
Sebelum proses pembuahan terjadi, 250 juta sperma terpancar dari si laki-laki pada satu waktu dan menuju sel telur yang jumlahnya hanya satu setiap siklusnya. Sperma-sperma melakukan perjalanan yang sulit di tubuh si ibu sampai menuju sel telur karena saluran reproduksi wanita yang berbelok-belok, kadar keasaman yang tidak sesuai dengan sperma, gerakan ‘menyapu’ dari dalam saluran reproduksi wanita, dan juga gaya gravitasi yang berlawanan. Sel telur hanya akan membolehkan masuk satu sperma saja.
Artinya, bahan manusia bukan mani seluruhnya, melainkan hanya sebagian kecil darinya. Ini dijelaskan dalam Al-Qur’an :“Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak terurus? Bukankah ia hanya setitik mani yang dipancarkan?” (QS Al Qiyamah:36-37).
a.       Segumpal Darah Yang Melekat di Rahim
Setelah lewat 40 hari, dari air mani tersebut, Allah menjadikannya segumpal darah yang disebut ‘alaqah. “Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah”. (Al ‘Alaq:2).
Ketika sperma dari laki-laki bergabung dengan sel telur wanita, terbentuk sebuah sel tunggal yang dikenal sebagai “zigot” , zigot ini akan segera berkembang biak dengan membelah diri hingga akhirnya menjadi “segumpal daging”. Tentu saja hal ini hanya dapat dilihat oleh manusia dengan bantuan mikroskop.
Tapi, zigot tersebut tidak melewatkan tahap pertumbuhannya begitu saja.Ia melekat pada dinding rahim seperti akar yang kokoh menancap di bumi dengan carangnya. Melalui hubungan semacam ini, zigot mampu mendapatkan zat-zat penting dari tubuh sang ibu bagi pertumbuhannya. Pada bagian ini, satu keajaiban penting dari Al Qur’an terungkap.Saat merujuk pada zigot yang sedang tumbuh dalam rahim ibu, Allah menggunakan kata “alaq” dalam Al Qur’an.Arti kata “alaq” dalam bahasa Arab adalah “sesuatu yang menempel pada suatu tempat”.Kata ini secara harfiah digunakan untuk menggambarkan lintah yang menempel pada tubuh untuk menghisap darah.
b.      Pembungkusan Tulang oleh Otot
Disebutkan dalam ayat-ayat Al Qur’an bahwa dalam rahim ibu, mulanya tulang-tulang terbentuk, dan selanjutnya terbentuklah otot yang membungkus tulang-tulang ini.
“Kemudian air mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling Baik” (QS Al Mu’minun:14)
Para ahli embriologi beranggapan bahwa tulang dan otot dalam embrio terbentuk secara bersamaan.Karenanya, sejak lama banyak orang yang menyatakan bahwa ayat ini bertentangan dengan ilmu pengetahuan.Namun, penelitian canggih dengan mikroskop yang dilakukan dengan menggunakan perkembangan teknologi baru telah mengungkap bahwa pernyataan Al-Qur’an adalah benar kata demi katanya.[4]
Penelitian di tingkat mikroskopis ini menunjukkan bahwa perkembangan dalam rahim ibu terjadi dengan cara persis seperti yang digambarkan dalam ayat tersebut. Pertama, jaringan tulang rawan embrio mulai mengeras.Kemudian sel-sel otot yang terpilih dari jaringan di sekitar tulang-tulang bergabung dan membungkus tulang-tulang ini.
c.       Saripati Tanah dalam Campuran Air Mani
Cairan yang disebut mani tidak mengandung sperma saja. Ketika mani disinggung di Al-Qur’an, fakta yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern, juga menunjukkan bahwa mani itu ditetapkan sebagai cairan campuran: “Dialah Yang menciptakan segalanya dengan sebaik-baiknya, Dia mulai menciptakan manusia dari tanah liat. Kemudian Ia menjadikan keturunannya dari sari air yang hina.” (Al-Qur’an, 32:7-8).

B.       Visi dan Misi Penciptaan Manusia
1.      Visi Penciptaan Manusia
Segala sesuatu yang Allah ciptakan, baik di langit maupun di bumi pasti ada tujuan dan hikmahnya.Tidaklah semata mata karena hanya suka-suka saja.Bahkan seekor nyamuk pun tidaklah diciptakan sia-sia. Allah Ta’ala berfirman,


Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?” (QS. Al Mukminun:115).
Visi yang baik memiliki ciri-ciri tertentu.Adapun ciri-ciri visi yang baik itu , adalah sebagai berikut :
a.       Terukur dan spesifik.
b.      Fleksibel dan tidak kaku.
c.       Realistis dan sesuai dengan kemampuan serta bakat yang kita miliki.
d.      Menarik dan kita tertantang untuk meraihnya.
e.       Jelas dan mudah dipahami.
f.       Sederhana, tidak terlalu panjang dan mudah diingat.
Berikut adalah  visi utama penciptaan manusia yaitu Mengilmui Tentang Allah. Allah Ta’ala berfirman:
 Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath Thalaq: 12).
Allah menceritakan bahwa penciptaan langit dan bumi, agar manusia mengetahui tentang ke Maha Kuasaan Allah Ta’ala, bahwa Allah lah pemilik jagad raya ini dengan ilmu Allah yang sempurna. Tidak ada satu pun yang terluput dari ilmu dan pengawasan Allah, karena ilmu Allah meliputi segala sesuatu
2.      Misi Penciptaan Manusia
Misi adalah alasan keberadaan, amanah yaitu sudah ada dalam diri manusia sendiri. Sedangkan visi adalah keadaan dimasa mendatang yang ingin dicapai seperti hal nya cita-cita.
Misi manusia hidup didunia sudah jelas untuk beribadah ,sedangkan visi setiap manusia mungkin belum semuanya jelas dan berbeda-beda untuk masing-masing manusia itu sendiri,jadi visi sebagai tujuan sedangkan misi sebagai aksi-aksi untuk mencapai suatu tujuan.
Tujuan penciptaan manusia yaitu konsep tentang desain penciptaan,manusia didesain atau dirancang sebagai mahluk yang mengabdi dan beribadah kepada Allah.Karena manusia didesain untuk beribadah dan bersujud kepada Allah, maka tentu saja eksistensinya atau keberadaan manusia akan tergantung kepada seberapa jauh dia menyesuaikan diri dengan rancangan awal penciptaannya.
Ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan visi dan misi penciptaan manusia adalah surat Adz-Dzaryat ayat 56 . Artinya: ”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah Ku.” (Q.S Adz-Dzariyat : 56)
Pada surat Adz-Dzaryat ayat 56 ini, Allah menjelaskan bahwa visi,misi,dan tugas manusia adalah untuk menyembah dan beribadah kepada Allah, baik ibadah secara hablumminnas maupun hablumminnallah. Hal ini juga memberi pengertian bahwa tujuan penciptaan manusia hanyalah untuk menyembah Allah SWT karena itulah dapat kita lihat bahwa dakwahRasulullah SAW di Mekkah adalah mengajak manusia kepada kebenaran menyembah Allah. Namun ini bukan berarti bahwa Allah butuh disembah,sebab menurut Taba’taba’i hal itu mustahil bagi Allah swt[5].Namun sesuatu yang tidak memiliki tujuan adalah perbuatan sia-sia  .
Yang harus dihindari,dengan demikian harus dipahami bahwa ada tujuan bagi Allah dalam perbuatannya.Ibadah adalah tujuan penciptaan manusia dan kesempurnaan yang kembali kepada penciptaan.Allah swt menciptakan manusia untuk memberinya ganjaran.
Pada ayat itu juga dijelaskan bahwa  misi penciptaan manusia yaitu sebagai hamba Allah yang menyembah–Nya sesuai yang di perintahkan,sebagai khalifah dimuka bumi yang bertugas memakmurkannya dan berusaha menegakkan keadilan Allah. Kesuksesan dan kegagalan inilah yang nantinya menentukan bagaiman balasan yang adil baginya di akhirat nanti. Sedangkan visi penciptaan manusia adalah manusia agar bersujud kepada Allah; bersyukur,berdoa,dan bersujud kepada Allah. Rasa syukur itu harus tetap ada pada diri manusia, Rasullullah SAWpernah berdoa seperti berikut: “Wajahku bersujud kepada Dzat yang telah menciptakannya,memberinya rupa,pendengaran,dan penglihatan. Maka Maha Suci Allah sebagai pencipta yang paling baik.” (HR.Muslim)
Wujud dari visi dan misi penciptaan manusia terdapat pada surat Al-An’nam ayat 162-163 yang artinya sebagai berikut:“Katakanlah:sesungguhnya shalatku, ibadahku,hidupku,dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta alam,tiada sekutu Bagi-Nya. Dan demikian itu yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yan pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.
Manusia dalam beribadah hendaklah hanya mengharap ridha Allah. Hidup dan mati pun hanya mengharap ridhaAllah. Menjauhkan diri dari sifat kemusyrikan dan agar ibadah nya hanya diterima Allah hendaklah dengan iklas,sabar,dan tawakal.
Selain surat  Adz-Dzariyyat ayat 56 yang menjelaskan visi dan misi penciptaan manusia juga ada surat yang menjelaskan visi dan misi penciptaan manusia yaitu surat Al-Bayyinah ayat 5, Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada Allah dalam menjalankan agama yang lurus,dan supaya mereka mendirikan shalat,dan menunaikan zakat,dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
Dalam ayat ini dijelaskan bahwa manusia diciptakan hanya untuk menyembah kepada Allah SWT,memurnikan dalam beribadah dan menjauhkan dari syirik, sebagai wujud dari ketaatan kepada Allah SWT dengan menjalankan sholat dan zakat atau memberikan sebagian rezekinya kepada orang yang berhak.Paling tidak ada lima misi utama sebagai berikut[6]
a.       Beribadah Kepada Allah Secara Tulus
Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah. Firman Allah dalam surat adz-dzariyat ayat 56, yang artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. Ibadah (al-‘ibadah) secara bahasa mempunyai arti ketaatan, pengabdian, kepatuhan atau tunduk dan penghambaan diri kepada Allah.Ibadah menurut Yusuf Qardhowi adalah puncak perendahan diri seseorang manusia yang berkaitan dengan puncak kecintaan kepada Allah.
Banyak bentuk dan jenis ibadah dalam Islam, antara lain yang disebutkan dalam rukun Islam, yaitu salat, puasa, zakat dan haji. Selain itu, para ulama mempertegas bahwa seluruh aktivitas Muslim yang tidak bertentangan dengan syari’at, dikerjakan dengan ikhlas dan ingin mengharapkan keridhaan Allah adalah ibadah.
Ibadah wajib yang bersifat harian adalah salat. Salat sebagai ibadah pertama diwajibkan dan juga merupakan ibadah pertama yang akan dihisab di akhirat perlu mendapat perioritas dalam kehidupan seorang muslim. Idealnya aktivitas pertama dan terakhir dalam kehidupan Muslim adalah salat. Artinya kegiatan pertama dilakukan waktu pagi adalah dengan melaksanakan salat Subuh dan menutup keseluruhan aktivitas dengan salat Isya. Bila bertemu dua kegiatan pada waktu yang bersamaan dengan waktu salat, maka seorang muslim harus melaksnakan salat terlebih dahulu. Ibadah salat dipandang berkualitas jika : dikerjakan di awal waktu, dilakukan secara berjama’ah, memenuhi syarat dan rukun, khusyuk dan dikerjakan dengan ikhlas.
b.      Bekerja Dengan Landasan Moral Agama
Berkaitan dengan kerja dalam Alqur’an surah An-Naba’ ayat 11 Allah berfirman yang artinya : “Kami jadikan waktu siang untuk mencari penghidupan”. Selain itu dalam surat al-Jumu’ah ayat 10, yang artinya : “Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung”.
Persepsi sebahagian masyarakat kita tentang kerja adalah keliru.Kerja dipahami sebagai suatu kegiatan yang menghasilkan secara konkrit, mendatangkan keuntungan secara materi atau memperoleh jasa atau gaji (upah) dari pekerjaannya itu.Pemahaman tersebut adalah lebih bersifat formal dan merupakan bagian dari makna kerja yang sesungguhnya menurut konsep Islam.
Islam memandang bahwa kerja itu amatlah luas, baik yang dapat menghasilkan atau tidak menghasilkan secara konkrit.Setiap Muslim sejak dia bangun tidur, hingga dia tidur kembali, apapun yang dilakukannya disebut dengan kerja.Lebih jauh dari itu, seorang yang secara fisik tidak bekerja atau dalam keadaan tidak bergerak, tapi akal dan fikirannya difungsikan secara aktif, maka dapat digolongkan kepada makna kerja.Demikian juga orang yang hatinya selalu dalam keadaan berzikir kepada Allah SWT.
Allah SWT telah memberikan paling tidak tiga daya kepada manusia, yaitu daya gerak, daya fikir dan daya kalbu. Setiap gerakan positif yang dilakukan oleh seorang muslim adalah amal saleh. Berfikir dan mencurahkan nalarnya untuk belajar, mengajar dan untuk kemaslahatan umat juga amal saleh.Selanjutnya, niat yang terbuhul dalam hati dan mengingat Allah (zikir) juga merupakan amal kebaikan yang mendapat nilai di sisi Allah SWT.Oleh sebab itu, kerja dalam pengertian luas adalah semua bentuk kegiatan, gerak atau usaha (ikhtiar) yang dilakukan oleh manusia.
c.       Membangun Keluarga Yang Islami
Seorang Muslim tidak boleh hanya asyik berkerja, akan tetapi harus pula membagi waktu untuk kepentingan keluarga. Penyediaan waktu untuk keluarga antara lain dalam tujuan pendidikan dan menjalin hubungan kasih sayang dengan isteri/suami dan anak. Dasar perencanaan ini adanya perintah Allah dalam surat At-tahrim ayat 6, yang artinya : “Hai orang-orang beriman peliharalah dirimu dan keluargamu dari api nereka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak merdurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan”.
Kewajiban utama dalam pemenuhan berbagai kebutuhan keluarga adalah suami.Namun dalam waktu yang bersamaan suami dan isteri juga harus bersama-sama dalam membina keluarga yang Islami.Keluarga Islami dicirikan pada beriman kepada Allah dan megakkan ajaran agama dalam keluarga secara bersama-sama.
Tapi problem kehidupan keluarga modern – suami dan isteri bekerja -adalah sedikit sekali waktu untuk anak-anak mereka. Orang tua sering berdalih bahwa ia kerja adalah untuk anak-anak mereka. Tapi karena kurang kontrol dan pengawasann, sehingga anak-anak mereka terlibat dalam norkoba misalnya.
Berkaitan dengan pembinaan keluarga, Dr. Abdullah Nashih Ulwan menawarkan lima konsep dalam pendidikan anak. Pertama, Orang tua harus selalu menasehatkan anak-anaknya.Kedua, orang tua hendaknya selalu memberikan contoh yang baik.Ketiga, Anak harus dibiasakan melakukan hal-hal yang baik.Keempat, bila anak berprestasi dan berbuat baik, maka harus diberikan penghargaan dan jika melakukan kesalahan harus diberikan teguran atau peringatan.Kelima, orang tua harus selalu mengontrol aktivitas anak.
d.      Membangun Masyarakat Bermoral
Dalam kaitan ini ahli hikmah berkata : “Kambing jika berkelompok, harimaupun akan takut, tapi jika menyendiri, akan menjadi santapan harimau”. Kemudian ahli sosiologi juga menyebutkan, manusia merupakan makhluk bermasyarakat (zoon politicon).Artinya keinginan untuk bermasyarakat sudah merupakan pembawaan atau naluriyah manusia. Apalagi dilihat dari sisi ketergantungan, memang manusia tidak bisa melepaskan diri dari orang lain.
Islam sangat menganjurkan agar kita selalu bersilaturrrahmi, sebagai upaya memperkokoh pilar kehidupan sosial. Menurut Nabi silaturrahmi itu mempunyai dua manfaat, yaitu mudah rezeki dan panjang usia. Selain itu, tentu untuk menjalin hubungan kasih sayang melalui saling kunjung mengunjungi. Itulah sebabnya maka dalam ajaran Islam wajib memenuhi undangan orang lain. Apakah itu undangan perkawinan, undangan aqiqah, kenduri sunat rasul dan undangan keperluan lainnya.
e.       Memelihara Kesehatan Pribadi.
Kesehatan adalah amat penting dalam pelaksanaan keempat misi di atas.Kesehatan yang prima akan dapat diwujudkan melalui tidur yang cukup, istirahat, olah raga dan berobat secara rutin. Berkaitan dengan istirahat dan tidur, dalam surah An-Naba’ ayat 9-11 Allah berfirman yang artinya: “Dan Kami jadikan tidurmu untuk istirahat. Dan Kami jadikan waktu malam sebagai pakaian dan kami jadikan siang untuk bekerja”.Akhirnya, jika kelima program utama di atas yang merupakan misi hidup Muslim dapat diprogram dan dilaksanakan dengan baik, maka visi muslim akan tercapai.

C.    Sebutan Nama Lain Manusia dalam Al-Quran dan Keistimewaannya
1.      Sebutan Nama Lain Manusia
Dalam penyebutan nama manusia, Allah menyebutkan banyak nama dalam Al-Quran. Setidaknya ada 4 sebutan nama manusia dalam Al-Quran yang paling banyak disebut yaitu Al-Insan, Al-Basyar, Bani Adam, An-Nas[7]. Nama-nama tersebut juga bisa dianggap sebagai tingkatan umat manusia dalam kehidupannya di dunia ini.
a.    Al-Insan
Asal kata dari Insan berasal dari kata ‘’al-uns’’, Dan sebanyak 65 kali disebutkan dan tersebar di dalam 43 surat. Insan dapat diartikan lemah lembut, harmonis, tampak, atau pelupa. Kata ini digunakan dalam Al-Qur’an untuk menyampaikan tentang manusia yang kemanusiaannya secara totalitas jiwa dan raga. Manusia yang telah sampai pada segi insan yang sempurna yakni ‘’kamil’’, bermakna: ‘’manusia sempurna’’, yang memang susah ditemukan. Karena umumnya manusia seperti ini memilih menepi meninggalkan segala hiruk pikuk dunia. 
Dalam penjelasan di Al-Quran ada pada surat Al-Insan ayat 1

 “Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
Maksud dari ayat ini adalah dibicarakan perihal penciptaan dan cobaan kepada umat manusia yang berpotensi untuk bersyukur kepada Allah atau mengingkari-Nya. Balasan yang akan diberikan kepada orang-orang kafir, dalam surat ini, dibicarakan secara global. Sementara mengenai kenikmatan-kenikmatan yang Allah karuniakan kepada orang-orang Mukmin dipaparkan secara lebih rinci.
Insan berarti manusia dalam arti yang sebenarnya. Insan tidak menunjuk pada manusia biologis. Insan lebih terkait dengan kualitas luhur kemanusiaan. Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming). Ia terus-menerus maju menuju ke kesempurnaan. Karakter “menjadi” ini membedakan manusia dengan fenomena lain di alam.  Sebagai contoh, semut dan serangga lainnya tidak pernah dapat melampaui keadaannya; ia menggali lubang dengan cara yang sama sebagaimana ia melakukanya 15 juta tahun yang lampau di Afrika. Tidak usah memandang di mana, kapan dan bagaimana, semut selalu dalam keadaan yang sama, pasti dan tidak dapat berubah-rubah.
Wujud kongkrit tiga sifat insan tersebut adalah ilmu. Ilmu membebaskan manusia dari kerangkeng alam, sejarah dan masyarakat.  Dengan ilmu, insan mengetahui hukum-hukum yang berlaku di alam, masyarakat dan sejarah.  Sehingga, insan kuasa untuk lolos dari tiga penjara tersebut bahkan sekaligus mampu merekayasa ketiga determinan itu. Sementara itu, penjara terakhir manusia, yakni penjara ego (diri), tidak dilawan dengan ilmu, tapi dengan cinta.
Cinta memiliki kekuatan yang mendorong manusia untuk menolak, memberontak, dan mengorbankan diri demi suatu cita-cita atau orang lain. Jadi, secara singkat, manusia berevolusi ke Yang Tak Terhingga, ke kesempurnaan berbekal tiga sifat dasariahnya.  Tiga sifat, yang bentuk nyatanya adalah ilmu, adalah instrumen pembebasan manusia dari tiga penjara manusia, yaitu penjara alam, sejarah dan masyarakat. Sedangkan, penjara terakhir (ego) dilawan dengan cinta kasih. Kemerdekaan dari kolonialisasi empat determinan itu mengantar manusia ke puncak kesempurnaan kemanusiaannya.
b.      Al-Basyar
Manusia dengan gelar ‘’basyarun’’ disebutkan sebanyak 36 kali, dan tersebar di dalam 26 surah.Secara etimologi ‘’basyar’’ berarti kulit kepala, wajah, dan tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya segala macam rambut.Selain itu, ayat ini menjelaskan bila manusia dipenuhi dengan keterbatasan termasuk membutuhkan makan dan minum.Berikut ayat yang menjelaskan tentang basyarun, dikisahkan oleh Muhammad SAW, yakni manusia yang terdiri dari berbagai organ tersebut sangat rentan melakukan persekutuan kepada Allah SWT’’. 
Penjelasan daalam Al-Quran ada pada surat Al-Hijr ayat 28:
 “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk,”
Manusia terbuat dari tanah kering dan tidak dapat memungkirinya. Dan diatas kulit-kulit yang terbuat dari tanah, tumbuh segala macam rambut. (Tafsir Jalalayn)
Basyar adalah makhluk yang sekedar ada (being).  Artinya,  manusia dalam kategori basyar adalah makhluk statis, tidak mengalami perubahan, berkaki dua yang berjalan tegak di muka bumi. Oleh karenanya, manusia memiliki definisi yang sama sepanjang zaman, terlepas dari ruang dan waktunya. Singkatnya, basyar adalah manusia dalam arti fisis-biologis. Manusia dilihat sudut fisik tidaklah jauh berbeda dengan hewan. Manusia bisa makan, minum, tidur, sakit dan mati. Begitu pula hewan. Bahkan, bila manusia dan hewan dibandingkan dari segi perbuatan nistanya, maka manusia lebih inferior dari hewan (dalam arti bisa lebih jahat dan kejam).
Perbuatan-perbuatan rendah manusia tak pernah berubah, hanya instrumennya saja yang berubah.  Seorang sejarahwan menjelaskan bahwa penguasa masa lalu, seperti Gengis Khan, dengan penguasa modern tidaklah berbeda dari segi kebuasannya.  Perbedaannya hanya terletak pada instrumen dan argumentasinya saja.  Penguasa masa lalu memiliki senjata-senjata sederhana, dan mereka pun tak segan memproklamirkan bahwa mereka sengaja membunuh.  Sementara itu, penguasa modern mempunyai senjata-senjata super-canggih untuk membunuh, dan mereka melakukan pembunuhan atas nama kedamaian. Sehingga memberi penilaian bahwa dewasa ini kejahatan, kepalsuan, kelancungan, pembunuhan, sadisme, dan kekejaman lebih banyak, lebih dahsyat dari pada masa lalu.  Tendensi negatif manusia itu merupakan representasi dari manusia dalam arti basyar. Manusia tipe basyar belum mampu melepaskan diri dari penjara-penjara manusia (the prisons of man), terutama penjara natural-instingtualnya.
c.       Bani Adam
Al-Qur’an menyebutkan tentang Bani Adam sebanyak 9 kali. Aspek Bani Adam lebh ditekakan pada kehidupan manusia dari segi amaliah, juga sebagai upaya mengenal diri sendiri atau memahami tingkatan kita dalam Al-Qur’an sekaligus pemberi arah ke mana dan dalam bentuk apa aktivitas itu dilakukan.
Penjelasan dalam Al-Quran ada pada surat Al-Isra ayat 70

Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
Menurut tafsir Quraish Shihab: Sungguh Kami telah memuliakan anak-cucu Adam dengan bentuk tubuh yang bagus, kemampuan barbicara dan kebebasan memilih. Mereka Kami berikan kemuliaan dan kekuatan, jika mereka mematuhi Kami. Mereka Kami angkut di daratan, melalui hewan, dan Kami angkut pula mereka di lautan, melalui kapal-kapal. Mereka juga Kami berikan rezeki berbagai kenikmatan. Sesungguhnya Kami benar-benar telah melebihkan mereka dengan akal pikiran atas kebanyakan makhluk lain yang Kami ciptakan.
Dalam dimensi ini manusia disebutkan sebagai mahkluk yang memiliki tingkat intelektual. Dimensi ini menjelaskan bahwa manusia memiliki curiosity atau rasa ingin tahu di dalam diri personalnya terhadap suatu hal. Rasa ingin tahu ini merupaan warisan yang sangat berharga dari nenek moyang kita yatu Nabi Adam A.S. Karena dengan adanya curiosity atau rasa ingin tahu tersebut maka manusia bisa menjadi mahkluk yang terus dan selalu berkembang. Hal ini karena rasa ingin tahu merupakan impuls atau rangsangan seseorang untuk menemukan pemecahan atau solusi dari suatu masalah serta membuat seseorang dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu sesuatu.
d.      An-Nas
Untuk manusia dengan sebutan An-nas, 241 kali disebutkan di dalam 55 surah. Sebutan An-Nas merupakan paling banyak diungkapkan, seakan memberikan pesan bahwa manusia dari macam inilah yang banyak ditemukan.Dalam al-Qur’an keterangan yang jelas menunjukkan pada jenis keturunan nabi Adam as. Kata an-Nas menunjuk manusia sebagai makhluk social dan kebanyakan digambarkan sebagai kelompok manusia tertentu yang sering melakukan mafsadah (kerusakan).
Penjelasan dalam Al-Quran ada pada surat An-Nas ayat 1
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّ
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia.
Dalam surat ini, Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw. untuk kembali dan berlindung kepada-Nya dalam mencegah kejahatan yang besar, yang tidak terlihat oleh kebanyakan manusia. Sebab, kejahatan tersebut datang kepada mereka dari hawa nafsunya sehingga mereka terjerumus dalam apa yang dilarang. Itulah kejahatan bisikan setan yang tersembunyi dari penglihatan mata, atau yang terlihat dan tersembunyi dalam tipu muslihat. Katakanlah, aku berlindung kepada Tuhan manusia, dan pengatur segala urusannya. (Tafsir Quraish Shihab)
Berarti dalam surat ini dijelaskan, bahwa manusia memiliki nafsu yang baik dan jahat. Maksud nafsu yang baik adalah nafsu yang dilakukan untuk beribadah, nafsu yang dilakukan di jalan Allah. Sedangkan nafsu yang jahat atau buruk adalah nafsu yang merujuk pada jalan maksiat, jalan keburukan. Manusia sebagai An-Nas merupakan dimensi antropologi yang artinya manusia tidak bisa terlepas dari hubungan diantara manusia yang lain atau dalam kata lain manusia adalah mahkluk sosial dan bermasyarakat. Manusia selalu diberikan pedoman dalam berperan sebagai mahkluk yang bersosial atau berhubungan dengan sesama manusia lainnya dengan saling bantu-membantu atau tolong-menolong dalam kebajikkan dan saling mengasihi terhadap sesama manusia. Manusia juga ditegaskan untuk tidak saling menyakiti satu sama lainnya guna menciptakan tali silaturahmi yang harmonis.
e.       ‘Abdun / Hamba
Manusia sebagai mahluk yang berdimensional memiliki peran dan kedudukan yang sangat mulia. Kedudukan manusia yang paling utama adalah sebagai Abdullah yang artinya sebagai Hamba Allah. Oleh karena itu, sebagai hamba Allah maka manusia harus menuruti kemauan Allah, yang tidak boleh membangkan kepada-Nya. Dalam hal ini, manusia mempunyai dua tugas yaitu: pertama ia harus beribadah kepada Allah baik dalam pengertian sempit (sholat, puasa, haji, dsb.) maupun luas (melaksanakan semua aktifitas baik dalam hubungan dengan secara vertikal kepada Allah SWT maupun bermuamalah dengan sesama manusia untuk memperoleh keridoan Allah sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah SWT dan Hadist).
a)      Manusia sebagai Makhluk
Keberadaan manusia di alam semesta ini bukan karena sendirinya, akan tetapi karena rancangan, disain, proses penciptaan dari Allah swt. Keberadaan manusia sebagai hasil ciptaan Allah swt, menyadarkan akan hakekat makhluk yang lemah, bodoh, dan fakir.
b)      Makhluk termulia (Al-Israa’:70)
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS. 17:70)
c)      Makhluk yang paling indah bentuk kejadiannya.
Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS. 95:4).
d)     Makhluk yang diberikan kebebasan memilih dan bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk.
“…dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. 91:7-10)
e)      Makhluk yang diberi kemampuan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan dibekali dengan alat-alat yang mendukungnya dalam meraih iptek itu:
“Bacalah dengan (menyebut) nama Rabbmu Yang menciptakan,  Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah,” (QS. 96:1-3).
f)       Fitrah
Dari segi bahasa, kata fitrah terambil dari akar kata al-fathr yang berarti belahan, dan dari makna ini lahir makna-makna lain, seperti “penciptaan” dan “kejadian”. Dalam al-Qur’an kata ini dalam berbagai bentuknya terulang sebanyak 28 kali, 14 kali diantaranya dalam konteks uraian tentang bumi dan atau langit. Sisanya dalam konteks penciptaan manusia baik dari sisi pengakuan bahwa penciptanya adalah Allah, maupun dari segi uraian tentang fitrah manusia. Yang terakhir ini ditemukan sekali yaitu pada QS ar-Rum: 30.
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” ( Ar-Rum:30)
Merujuk kepada fitrah yang dikemukukan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia sejak asal kejadianya, membawa potensi beragama secara lurus, dan dipahami oleh para ulama sebagai tauhid. Kalau kita memahami kata la pada ayat tersebut dalam arti “tidak”, maka ini berarti bahwa seseorang tidak dapat menghindari fitrah itu. Dalam konteks ayat ini, ia berarti bahwa fitrah keagamaan akan melekat pada diri manusia untuk selama-lamanya, walaupun boleh jadi tidak diakui atau diabaikanya.
2.      Keistimewaan Manusia
Manusia dalam kedudukan di alam ini berada pada tingkatan yang paling atas daripada makhluk Allah lainnya. Karena, manusia memiliki akal dan nafsu dalam dalam dirinya. Sedangkan makhluk Allah lainnya hanya memiliki satu saja sifat, contohnya seperti malaikat yang hanya memiliki nafsu saja, nafsu yang baik untuk beribadah. Pada saat penciptaan nabi Adam a.s. para malaikat disuruh untuk menyebutkan benda-benda yang ada di depan mereka, tetapi mereka tidak tahu apa nama-nama benda yang ada di depan mereka. Dan kemudian Allah menyuruh nabi Adam untuk menyebutkan apa-apa benda yang ada di depannya, dan kemudian nabi Adam menyebutkannya tanpa kesusahan (Al-Baqarah:31-33).
sebagai berikut:
a.    Manusia sebagai ciptaan yang tertinggi dan terbaik.
Dalilnya surat At-Tin ayat 4
لَقَدْ خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.”

Dalam ayat ini jelas, bahwa manusia diciptakan dalam bentuk yang paling baik. Maka, jika ada orang yang merubah-merubah bentuk dirinya maka dia akan dimurkai oleh Allah. Sebagai contoh, manusia adalah makhluk yang tidak pernah puas utamanya wanita dalam kecantikannya.Maka, banyak sekarang ini mereka merubah dirinya, wajahnya, melalui operasi plastik ntuk membuatnya lebih cantik.Ini adalah glongan yang dimurkai oleh Allah yaitu merubah bentuk dirinya padahal Allah sendiri sudah mengatakan dia membuat manusia dalam bentuk yang paling baik.
b.      Manusia diistimewakan dan dimuliakan oleh Allah
Dalilnya surat Al-Isra ayat 70
 “Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.“
Penekanan dari ayat diatas adalah “Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan” makna tersebut berarti manusia dimuliakan oleh Allah dan diistimewakan juga.
c.       Mendapatkan tugas mengabdi
Dalilnya surat Az-Zariyat ayat 56
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.”
Pengertian dalam ayat ini sama sekali tidak bertentangan dengan kenyataan, bahwa orang-orang kafir tidak menyembah-Nya. Karena sesungguhnya tujuan dari ayat ini tidaklah memastikan keberadaannya. Perihalnya sama saja dengan pengertian yang terdapat di dalam perkataanmu, "Aku runcingkan pena ini supaya aku dapat menulis dengannya." Dan kenyataannya terkadang manusia sendiri tidak menggunakannya.
d.      Mempunyai peranan sebagai khalifah
Dalilnya surat Al-An’am ayat 165

“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Allahlah yang menjadikan manusia sebagai pengganti umat-umat yang lalu dalam mengembangkan alam. Dia meninggikan derajat kesempurnaan materi dan maknawi sebagian kalian di atas yang lain, karena menempuh sebab-sebabnya? Itu semua agar Dia menguji manusia atas nikmat yang telah dikaruniakan-Nya, apakah mereka bersyukur atau tidak.Juga atas hukum-hukum syariat, apakah mereka laksanakan atau tidak.Allah Mahacepat hukumannya terhadap orang-orang yang melanggar. Sebab, hukuman-Nya pasti akan datang. Segala yang akan datang adalah dekat. Sesungguhnya ampunan-Nya terhadap pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang yang bertobat dan berbuat baik sangat besar.Kasih sayang-Nya kepada mereka amat luas.
e.       Untuk melaksanakan tugas dan peranannya guna mencapai tujuan hidupnya manusia diberi peraturan hidup
Dalilnya surat An-Nisa ayat 105
 “Sesungguhnya Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela) orang-orang yang khianat, “
Allah telah menurunkan al-Qur'ân kepadamu, Muhammad, dengan benar: mengandung dan menjelaskan segala kebenaran sampai hari kiamat. Al-Quran menjadi pedoman dalam memutuskan hukum di antara manusia.Tentukanlah hukum berdasarkandengan berpedoman pada al-Qur'ân-dan jangan membela orang-orang yang berkhianat.

D.      Tanggung Jawab Manusia
Islam bukan hanya memuliakan, mengunggulkan, dan mengistimewakan manusia atas makhluk lainnya, sejalan dengan ini Islam pun memberikan tanggung jawab yang disertai balasan sepadan[8].Islam membebani manusia dengan tanggung jawab penerapan syariat Allah dan perwujudan penghambaan kepada-Nya.Padahal, makhluk-makhluk lain tidak bersedia memikul tanggung jawab tersebut.Allah swt.berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan dipikullah amanat itu oleh manusia.Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, sehingga Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Ahzab: 72-73)
Sejalan dengan kebebasan, kehendak, dan kemampuan untuk membedakan kebaikan dan keburukan, Allah telah menentukan balasan atau balasan yang setimpal dengan alternatif yang dipilih manusia, apakah yang dipilihnya itu kebaikan ataukah keburukan? Untuk itu Al-Qur’an mengatakan:“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat [balasan]nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” (Al-Zalzalah: 7-8)
Atas pendengaran, penglihatan, hati dan seluruh anggota tubuh yang diberikan Allah, manusia bertanggung jawab untuk memanfaatkan semuanya dalam jalan kebaikan sebagaimana firman Allah berikut:“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan dimintai pertanggung jawabannya.” (Al-Isra’:36)
Rasa tanggung jawab itu akan terpelihara di dalam diri manusia yang sadar, selalu ingat, adil, jauh dari penyelewengan, tidak tunduk pada hawa nafsu, jauh dari kedhaliman dan kesesatan serta istiqamah dalam segala perilaku[9]. Rasulullah pun mengatakan bahwa manusia itu bertanggung jawab atas harta, umur dan kemudaannya lewat sabdanya ini:
“Tidaklah beranjak kaki seorang hamba pada hari kiamat sebelum dimintai pertanggungjawaban empat hal ini: tentang usia, dihabiskan untuk apa usia itu; tentang ilmu pengetahuan diamalkan untuk apa ilmunya itu; tentang harta, diperoleh dari mana dan dibelanjakan untuk apa hartanya itu; dan tentang tubuhnya, dilusuhkan untuk apa tubuhnya itu.” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah).
Manusia di dalam hidupnya disamping sebagai makhluk Tuhan, makhluk individu, juga merupakan makhluk sosial.Di mana dalam kehidupannya di bebani tanggung jawab, mempunyai hak dan kewajiiban, dituntut pengabdian dan pengorbanan.
Tanggung jawab itu sendiri merupakan sifat yang mendasar dalam diri manusia.Selaras dengan fitrah.Tapi bisa juga tergeser oleh faktor eksternal.Setiap individu memiliki sifat ini.Ia akan semakin membaik bila kepribadian orang tersebut semakin meningkat. Ia akan selalu ada dalam diri manusia karena pada dasarnya setiap insan tidak bisa melepaskan diri dari kehidupan sekitar yang menunutut kepedulian dan tanggung jawab.
Inilah yang menyebabkan frekuensi tanggung jawab masing-masing individu berbeda, Tanggung jawab mempunyai kaitan yang sangat erat dengan perasaan. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Macam-macam tanggung jawab:
1.         Tanggung jawab terhadap dirinya sendiri
Manusia dalam hidupnya mempunyai “harga”, sebagai mana kehidupan manusia mempunyai beban dan tanggung jawab masing-masing.
Salah satu contohnya apabila seorang anak yang telah dibiayai untuk bersekolah oleh orang tuanya, maka anak tersebut bertanggung jawab untuk menjadi seseorang yang berprestasi.
2.      Tanggung jawab terhadap keluarga
Keluarga terdiri dari ayah, ibu, dan anak, dan juga orang lain yang menjadi anggota keluarga. Tiap anggota keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya.
Contoh dalam pelaksanaan tanggung jawab terhadap keluarga yaitu seorang suami/ayah yang memiliki kewajiban untuk menafkahi keluarganya dan juga seorang ibu yang memiliki kewajiban dalam mengurus keluarganya.
3.      Tanggung jawab terhadap masyarakat
Pada hakikatnya manusia tidak dapat hidup tanpa bantuan orang lain, sesuai dengan kedudukanya sebagai makhluk sosial. Karena membutuhkan manusia lain, maka ia harus berkomunikasi dengan manusia lain tersebut. Sehingga dengan demikian manusia di sini merupakan anggota masyarakat yang tentunya mempunyai tanggung jawab seperti anggota masyarakat yang lain agar dapat melangsungkan hidupnya dalam masyarakat tersebut
Contohnya yaitu dalam kegiatan gotong royong dalam kegiatan bersih-bersih, dimana setiap warga memiliki tanggung jawab untuk ikut serta dalam menjaga lingkungan sekitarnya.
4.      Tanggung jawab terhadap Bangsa / Negara
Suatu kenyataan bahwa setiap manusia, setiap individu adalah warga negara suatu negara. Dalam berfikir, berbuat, bertindak, bertingkah laku manusia terikat oleh norma-norma atau ukuran-ukuran yang dibuat oleh negara.Manusia tidak bisa berbuat semaunya sendiri. Bila perbuatan manusia itu salah, maka ia harus bertanggung jawab kan kepada negara.
Contoh nya yaitu apabila seorang warga negara tetap mematuhi aturan yang berlaku di suatu negara dan juga menjaga rasa nasionalisme demi terjaganya keutuhan suatu bangsa dan negara.
5.      Tanggung jawab terhadap Tuhan
Manusia mempunyai tanggung jawab langsung kepada Tuhan. Sehingga tindakan manusia tidak bisa lepas dari hukum-hukum Tuhan yang dituangkan dalam berbagai kitab suci melalui berbagai macam agama.
Contohnya dalam kehidupan sehari-hari yaitu seorang muslim yang melaksanakan salat dan juga melakukan setiap rukun-rukun islam yang bersumber dari al-qur’an.

E.       Kedudukan Harkat dan Martabat Manusia
Harkat dan martabat merupakan dua istilah yang tidak terlepas dari manusia sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna dibandingkan makhluk lainnya.Meskipun memiliki arti perbeda, namun kedua istilah tersebut saling berkaitan erat.Pengertian harkat manusia adalah derajat kemuliaan manusia sedangkan pengertian martabat manusia adalah harga diri manusianya.
Manusia juga memiliki jiwa dan raga dimana jiwa atau roh manusia memiliki derajat (harkat) yang lebih tinggi karena berhubungan langsung dengan pencipta-Nya dan memiliki kemampuan-kemampuan yang disebut cipta, rasa dan karsa.Sedangkan raga manusia merupakan derajat paling rendah di mata Tuhan karena berhubungan dengan kondisi dan tingkah laku manusia yang terkadang manusia mengingkari hakekat dasar harkat dan martabat manusia lainnya[10].
Harkat dan Martabat Manusia pada dasarnya dimiliki oleh setiap manusia untuk menjalani kehidupan bermasyarakat karena sudah merupakan kodrat manusia sebagai makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial ciptaan Tuhan. Untuk itu setiap orang wajib dan berhak menjaga harkat dan martabatnya.
Contoh penerapan harkat dan martabat manusia yang paling umum adalah dalam pendidikan. Berdasarkan Harkat dan Martabat Manusia (HMM) dilakukan proses pembelajaran yang merupakan interaksi antara manusia dengan manusia (pendidik dan peserta didik) berdasarkan tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Pendidikan merupakan wahana bagi pengembangan dan media bagi pemuliaan manusia yang merupakan:
1.         Makhluk yang terindah dalam bentuk dan pencitraannya; 
2.         Makhluk yang tertinggi derajatnya; 
3.         Makhluk yang beriman dan bertaqwa kepada Tuahn Yang Maha Kuasa; 
4.         Khalifah dimuka bumi;  
5.         Pemilik Hak-hak Asasi Manusia (HAM).















BAB 3
PENUTUP

A.      Kesimpulan
Manusia dalam agama islam diartikan sebagai makhluk Allah SWT yang memiliki unsur dan jiwa yang arif, bijaksana, berakal, bernafsu, dan bertanggung jawab pada Allah SWT. Manusia memiliki jiwa yang bersifat rohaniah, gaib, tidak dapat ditangkap dengan panca indera yang berbeda dengan makhluk lain karena pada manusia terdapat daya berfikir, akal, nafsu, kalbu, dan sebagainya.
Hakikat manusia dalam pandangan islam yaitu sebagai khalifah di bumi ini. Yang mampu merubah bumi ini kearah yang lebih baik.Hal yang menjadikan manusia sebagai khalifah adalah karena manusia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki makhluk lainnya, seperti akal dan perasaan.Selain itu manusia diciptakan Allah dalam bentuk yang paling baik, ciptaan Allah yang paling sempurna.
Sebagai makhluk yang dibekali dengan berbagai kelebihan jika dibandingkan dengan makhluk lain, sudah sepatutnya manusia mensyukuri anugrah tersebut dengan berbagai cara, diantaranya dengan memaksimalkan semua potensi yang ada pada diri kita. Kita juga dituntut untuk terus mengembangkan potensi tersebut dalam rangka mewujudkan tugas dan tanggung jawab manusia sebagai makhluk dan khalifah di bumi.
Fungsi utama manusia adalah sebagai khalifah di muka bumi ini dan perannya sebagai khalifah sebagaimana yang ditetapkan Allah SWT mencakup tiga poin yaitu belajar, mengajarkan ilmu, dan membudayakan ilmu.Tenggung jawab manusia sebagai khalifah yang berarti wakil Allah adalah mewujudkan kemakmuran di muka bumi, mengelola dan memelihara bumi.
Sebenarnya Al Quran sudah membahas semua hal mengenai fungsi, peran dan tanggung jawab manusia. Oleh karena itu manusia wajib membaca dan memahami Al Quran agar dapat memahami apa fungsi, peran dan tanggung jawabnya sebagai manusia, sehingga dapat menjalani kehidupan dengan penuh makna.

B.       Saran
Setelah mengetahui asal usul dan bagaimana proses manusia itu diciptakan, hendaknya setiap manusia bisa sadar akan tujuan hidupnya yaitu untuk mencari keridhaan Allah SWT, karena jiwa yang memperoleh keridhaan Allah adalah jiwa yang berbahagia, mendapat ketenangan, serta akan memperoleh imbalan surga.
Selama hidup di dunia manusia wajib beribadah, menghambakan diri kepada Allah.Seluruh aktivitas hidupnya harus diarahkan untuk beribadah kepada Allah SWT sebagai pencipta semua makhluk.Semoga dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua sehingga kita menjadi manusia yang senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.
Dengan terselesaikannya makalah ini semoga bermanfaat bagi semuanya dan pembaca khususnya.Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan yang harus dibenahi.Untuk itu masukan-masukan dari pihak-pihak yang merespon makalah ini sangat ditunggu.



[1]Asal Mula Manusia (menurut teori Evolusi). Diakses pada 16 April 2017 dari http://www.kholistembesi.my.id/2015/12/asal-mula-manusia-menurut-teori-evolusi.html

[2]Asal Mula Manusia (menurut teori Evolusi). Diakses pada 16 April 2017 dari http://www.kholistembesi.my.id/2015/12/asal-mula-manusia-menurut-teori-evolusi.html

[3]Proses Penciptaan Manusia Menurut Islam. Diakses pada 16 April 2017 dari https://updateberitamu.wordpress.com/2014/10/10/makalah-proses-penciptaan-manusia-menurut-islam/
[4]Proses Penciptaan Manusia Menurut Islam. Diakses pada 16 April 2017 dari https://updateberitamu.wordpress.com/2014/10/10/makalah-proses-penciptaan-manusia-menurut-islam/

[5]Visi dan Misi Hidup Muslim. Diakses pada 16 April 2017 darihttp://harian.analisadaily.com/mobile/mimbar-islam/news/visi-dan-misi-hidup-muslim/87375/2014/12/05
[6]Visi dan Misi Hidup Muslim. Diakses pada 16 April 2017 dari http://harian.analisadaily.com/mobile/mimbar-islam/news/visi-dan-misi-hidup-muslim/87375/2014/12/05
[7]4 Tingkatan Nama Manusia Yang Dijelaskan Dalam Al Quran. Diakses pada 16 April 2017 dari http://www.asadenanyar.com/2016/05/nama-nama-manusia-dalam-alquran.html
[8]Manusia Menurut Pandangan Islam. Diakses pada 16 April 2017 dari https://alquranmulia.wordpress.com/2014/01/03/manusia-menurut-pandangan-islam/
[9]Manusia Menurut Pandangan Islam. Diakses pada 16 April 2017 dari https://alquranmulia.wordpress.com/2014/01/03/manusia-menurut-pandangan-islam/
[10]Harkat dan Martabat Manusia. Diakses pada 16 April 2017 dari http://www.kanalinfo.web.id/2016/08/harkat-dan-martabat-manusia.html

Komentar