NAMA LAIN MANUSIA DAN SEBUTANNYA
KATA
PENGANTAR
Dengan menyebut nama Tuhan Yang Maha Esa, kami
panjatkan puja dan puji syukur atas kehadirat-Nya, yang telah melimpahkan
rahmat, hidayah, dan inayah-Nya kepada kami, sehingga kami dapat menyelesaikan
makalah sehingga makalah ini dapat diselesaikan untuk persyaratan mengikuti kegiatan
presentasi dan untuk mengisi nilai tugas pada mata kuliah Pendidikan Agama
Islam.
Adapun tujuan dalam penulisan makalah ini penulis
mempunyai tujuan untuk menambah pengetahuan yang dimiliki para mahasiswa/i.
Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan
yang penulis hadapi. Namun penulis menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan
makalah ini tidak lain berkat bantuan, dorongan, dan bimbingan dosen
pembimbing, sehingga kendala-kendala yang penulis hadapi teratasi. Penulis
menyadari bahwa makalah ini belum sempurna.Oleh karna itu penulis meminta saran
dan kritik yang membangun dari para pembaca yang sangat dibutuhkan untuk
penyempurnaan makalah.
Penulis mengucapkan terimakasih kepada semua pihak
yang telah membantu kami selama pembuatan makalah ini berlangsung sehingga
terselesaikan makalah ini.
Dengan demikian, penulis berharap semoga makalah
berjudul “Manusia Menurut Pandangan Islam” dapat bermanfaat dan dapat
memberikan wawasan yang luas dan menjadi sumbangan pemikiran kepada pembaca,
sehingga dapat memberikan inspirasi terhadap pembaca.
Jakarta,
Mei 2017
Penulis
DAFTAR ISI
Halaman
KATA PENGANTAR .................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................... ii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang.......................................................................................... 1
B. Masalah......................................................................................................
3
C. Tujuan ....................................................................................................... 3
D. Manfaat.....................................................................................................
3
BAB II MANUSIA MENNURUT
PANDANGAN ISLAM
A. Kejadian Manusia Menurut Teori Evolusi ................................................ 4
1.
Teori Evolusi
dan Revolusi Menurut Teori Para Ahli dan
Ilmu Antropologi................................................................................ 4
2.
Teori Revolusi
Menurut Pandangan Islam ........................................ 11
B. Visi dan Misi Penciptaan Manusia............................................................ 15
1. Visi Penciptaan Manusia..................................................................... 15
2. Misi Penciptaan Manusia..................................................................... 16
a.
Beribadah Kepada Allah Secara Tulus.......................................... 19
b. Bekerja Dengan
Landasan Moral Agama...................................... 20
c. Membangun Keluarga
Yang Islami............................................... 21
d. Membangun Masyarakat
Bermoral................................................ 22
e. Memelihara Kesehatan
Pribadi ..................................................... 22
C.
Sebutan Nama
Lain Manusia dalam Al-Quran dan Keistimewaannya..... 23
Nama Lain
1.
Sebutan Nama
Lain Manusia
a.
Al-Insan......................................................................................... 23
b.
Al-Basyar....................................................................................... 24
c.
Bani Adam.................................................................................... 26
d.
An-Nas.......................................................................................... 27
e.
‘Abdun.......................................................................................... 28
2. Keistimewaan
Manusia
a.
Manusia sebagai ciptaan yang tertinggi
dan terbaik ................... 31
b.
Manusia
diistimewakan dan dimuliakan oleh Allah.................... 31
c.
Mendapatkan
tugas mengabdi.................................................... 32
d.
Mempunyai
peranan sebagai khalifah......................................... 32
e. Untuk melaksanakan tugas dan
peranannya guna mencapai tujuan hidupnya manusia diberi peraturan hidup........................................................................................... 33
D.
Tanggung Jawab
Manusia ........................................................................ 33
1.
Tanggung jawab terhadap dirinya sendiri.......................................... 36
2.
Tanggung jawab terhadap keluarga.................................................... 36
3.
Tanggung jawab terhadap masyarakat............................................... 36
4.
Tanggung jawab terhadap Bangsa / Negar7....................................... 36
5. Tanggung
jawab terhadap Tuhan....................................................... 37
E.
Kedudukan Harkat dan Martabat Manusia............................................... 37
BAB III PENUTUP
A. Kesimpulan................................................................................................ 39
B. Saran.......................................................................................................... 40
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN
BAB
1
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Manusia merupakan makhluk yang
sangat menarik. Oleh karena itu, manusia sering menjadi perbincangan di
berbagai kalangan. Hampir semua lembaga pendidikan tinggi mengkaji manusia,
karya, dan dampak dari karya-karyanya terhadap dirinya sendiri, masyarakat, dan
lingkungan tempat tinggalnya.
Indonesia merupakan negara yang
religius dan memiliki toleransi yang tinggi.Hal ini terbukti dengan banyaknya
agama yang berkembang di Indonesia dan rukunnya kehidupan antarumat berbeda
agama di Indonesia.Islam adalah salah satu agama yang berkembang di Indonesia
dan mayoritas penduduk Indonesia merupakan pemeluk agama Islam. Islam
mengajarkan umatnya untuk saling berbagi dan menyayangi satu sama lain,
membantu siapapun yang memerlukan bantuan termasuk umat beda agama. Di mata
Allah SWT, semua manusia adalah sama. Amal dan ibadahnyalah yang membedakan
derajat seorang manusia dengan manusia lain.
Berbicara tentang manusia dan agama
dalam Islam adalah membicarakan sesuatu yang sangat klasik namun senantiasa
aktual. Berbicara tentang kedua hal tersebut sama saja dengan berbicara tentang
kita sendiri dan keyakinan asasi kita sebagai makhluk Tuhan.
Pemikiran tentang hakikat manusia
sejak zaman dahulu kala sampai zaman modern sekarang ini juga belum berakhir
dan mungkin tak akan pernah berakhir. Ternyata orang menyelidiki manusia itu
dari berbagai sudut pandang.Ada yang menyelidiki manusia dari segi fisik yaitu
antropologi fisik, adapula yang menyelidiki dengan sudut pandang budaya yaitu
antropologi budaya.Sedangkan yang menyelidiki manusia dari sisi hakikatnya
disebut antropologi filsafat.
Kehadiran manusia tidak terlepas
dari asal usul kehidupan di alam semesta.Manusia hakihatnya adalah makhluk
ciptaan Allah SWT. Pada diri manusia terdapat perpaduan antara sifat ketuhanan
dan sifat kemakhlukan.Dalam pandangan Islam, sebagai makhluk ciptaan Allah SWT
manusia memiliki tugas tertentu dalam menjalankan kehidupannya di dunia
ini.Untuk menjalankan tugasnya manusia dikaruniakan akal dan pikiran oleh Allah
SWT. Akal dan pikiran tersebut yang akan menuntun manusia dalam menjalankan
perannya. Dalam hidup di dunia, manusia diberi tugas kekhalifaan, yaitu tugas
kepemimpinan, wakil Allah di muka bumi, serta pengelolaan dan pemeliharaan
alam.
Memikirkan dan membicarakan hakikat
manusia inilah yang menyebabkan orang tak henti-hentinya berusaha mencari
jawaban yang memuaskan tentang pertanyaan yang mendasar tentang manusia itu
sendiri, yaitu apa dari mana dan mau kemana manusia itu.
Kehadiran manusia yang pertama
tidak terlepas dari asal usul kehidupan dialam semesta ini. Menurut ilmu
pengetahuan, asal usul manusia tidak bisa dipisahkan dari teori tentang spesies
baru yang berasal dari spesies lain yang telah ada sebelumnya melalui proses
evulusi. Teori yang diperkenalkan Darwin pada abad 19 telah menimbulkan
kepanikan, terutama kalangan gereja dan dan ilmuan yang berpaham teori kreasi
khusus.Sejak saat itulah terjadi pro dan kontra tentang asal usul manusia,
sebagian menerima dan sebagian lagi menolaknya.
Teori evolusi berpengaruh pula
pada bidang ilmu pengetahuan lainnya, termasuk psikologi yang objeknya
manusia.Pengikut Darwin dalam hal ini adalah Sigmund Freud yang mengatakan
bahwa manusia berkembang dari tahapan evolusi yang sederhana hingga tahapan
yang kompleks.Manusia sebagai salah satu makhluk yang hidup dimuka bumi yang
memiliki karakter yang unik.Memang secara fisik manusia tidak begitu berbeda
dengan binatang. Namun yang paling berbeda antara manusia dan makhluk lain
adalah terletak pada kemampuannya melahirkan kebudayaan.
B. Rumusan
Masalah
1.
Bagaimana
kejadian manusia menurut teori evolusi dan revolusi (wahyu)?
2.
Apakah
visi dan misi penciptaan manusia?
3.
Apa
sajakah sebutan nama lain manusia dalam Al-Quran? Lalu, bagaimanakah
keistimewaannya?
4.
Bagaimana
tanggung jawab manusia pada dirinya, keluarga, masyarakat, dan agama?
5.
Bagaimana
kedudukan harkat dan martabat manusia?
C. Tujuan
1.
Untuk
mengetahui kejadian manusia menurut teori evolusi dan revolusi (wahyu).
2.
Untuk
mengetahui visi dan misi penciptaan manusia.
3.
Untuk
mengetahui sebutan nama lain manusia dalam Al-Quran dan keistimewaannya.
4.
Untuk
mengetahui tanggung jawab manusia pada dirinya, keluarga, masyarakat, dan
agama.
5.
Untuk
mengetahui kedudukan
harkat dan martabat manusia.
D. Manfaat
1.
Agar
mengetahui kejadian manusia menurut teori evolusi dan revolusi (wahyu).
2.
Agar
mengetahui visi dan misi penciptaan manusia.
3.
Agar
mengetahui sebutan nama lain manusia dalam Al-Quran dan keistimewaannya.
4.
Agar
mengetahui tanggung jawab manusia pada dirinya, keluarga, masyarakat, dan
agama.
5.
Agar
mengetahui kedudukan harkat dan martabat manusia.
BAB
2
MANUSIA MENURUT PANDANGAN ISLAM
A. Kejadian
Manusia Menurut Teori Evolusi
1.
Teori
Evolusi Menurut
Teori Para Ahli
dan Ilmu Antropologi
Pada abad ke-19, dunia ilmu
pengetahuan diguncang oleh temuan baru yang kontroversial, yaitu Teori Evolusi.
Teori ini mengemukakan bahwa jenis manusia ada dimuka bumi ini melalui suatu proses evolusi yang panjang. seperti teorinya, pencetus teori ini hingga beberapa waktu yang lalu masih menjadi bahan perdebatan para ilmuwan hingga tahun 2008, hanya satu nama yang diakui sebagai pencetus tori evolusi, yaitu Charles robert Darwin (1809 - 1882).[1]
Teori ini mengemukakan bahwa jenis manusia ada dimuka bumi ini melalui suatu proses evolusi yang panjang. seperti teorinya, pencetus teori ini hingga beberapa waktu yang lalu masih menjadi bahan perdebatan para ilmuwan hingga tahun 2008, hanya satu nama yang diakui sebagai pencetus tori evolusi, yaitu Charles robert Darwin (1809 - 1882).[1]
Pada tahun 1859, Darwin
mengemukakan teori evolusi nya melalui On The Origin Of Species : Survival of The Fittest by Means of
natural Selection yang
terbit pada tahun yang sama. Buku ini dipercaya sebagai buku pertama yang
menjelaskan tentang teori evolusi, yang menyatakan bahwa makhluk hidup selalu
menyesuaikan diri dengan lingkungan alamiahnya yang terus berubah.makhluk yang
paling dapat menyesuaikan diri itulah yang akan survive dan berkembang menjadi
makhluk yang lebih konpleks atau lebih tinggi tingkatannya. sedangkan makhluk
yang tidak dapat menyesuaikan dengan lingkungan alamiahnya akan punah dengan
sendirinya.Jadi, menurut teori evolusi, makhluk berevolusi dari jenis organisme
yang paling sederhana (mikroba uniseluler) hingga makhluk yang kompleks
(multiseluler) dalam kurun waktu ratusan juta tahun.
Namun seiring berjalannya waktu,
muncul nama lain yang dipercaya sebagai pencetus sesungguhnya dari teori
evolusi ini, atau setidaknya sebagai kopencetus Darwin, dia adalah Alfred Russel Wallace
(1823-1913).[2]
Wallace-lah yang pertama kali
memakai kata Survival of the fittest dalam esainya yang berjudul on the Tendency of Organism to
Depart from the Original Type. Esai
ini diterbitkan pada tahun
1858, setahun sebelum terbitnya buku Charles Darwin.Esai ini pula yang dikirimkan Wallace
dari Ternate kepada Darwin pada tahun 1858, yang kemudian dikenal sebagai Letter from Ternate,
karena pada waktu itu Wallace melakukan penelitiannya di Ternate. Berdasarkan penelusuran sejarah
dan bukti-bukti yang ada, pada tahun 2009, dunia ilmu pengetahuan akhirnya
setuju bahwa kedua orang itu, yakni Darwin dan Wallace dinyatakan sebagai
penemu bersama Teori Evolusi.
Menurut Teori Evolusi, keberadaan
manusia dimuka bumi tidak begitu saja muncul, dinyatakan dalam teori ini bahwa
dibutuhkan waktu jutaan tahun untuk proses evolusi yang salah satunya berujung
pada terbentuknya manusia. Ini
adalah salah satu penjelasan dari prosesnya saja, sedangkan teorinya sendiri
tidaklah demikian. Berikut ini urutan kejadian manusia menurut teori evolusi.
Pada permulaan kehidupan, bentuk
kehidupan yang berupa mikroorganisme (makhluk renik) uniseluler dengan inti sel
yang belum sempurna (prokaryotik unicelluler microorganisme).Dengan
berjalannya waktu dan adanya seleksi alam, sedikit demi sedikit mikroorganisme
uniseluler berevolusi menjadi mikroorganisme multiseluler kemudian berlanjut
menjadi mikroorganisme multiseluler dengan inti sel yang sempurna (eukaryotik multicelluler microorganisme). Evolusi
selanjutnya akan memunculkan tumbuhan tingkat rendah, seperti ganggang (alga)
atau jamur yang pada tahap selanjutnya berevolusi menjadi tumbuhan tingkat
tinggi.
Dari evolusi mikroorganisme menjadi
tumbuhan, ada percabangan karena mutasi yang sukses menjadi bentuk hewan
tingkat rendah, yang kemudian menjadi hewan tingkat tinggi.Kemudian muncul
binatang-binatang tingkat tinggi dan berukuran lebih besar. Dengan tidak sengaja,
dari salah satu binatang, muncullah manusia. Hal ini dibuktikan dengan adanya sederet
bukti berupa tengkorak hewan yang secara runut mengarah ke tengkorak manusia
saat ini.
Bukti lain yang juga dikemukakan
untuk mendukung teori ini adalah perkembangan bentuk embrio berbagai jenis
binatang. Dalam perkembangannya, embrio manusia berubah-ubah bentuk, dimulai
dari serupa embrio ikan, kelinci dan binatang lainnya, dan berakhir pada bentuk
manusia.
Darwin mengajukan penyataannya bahwa manusia
dan kera berasal dari satu nenek moyang yang sama dalam bukunya The Descent of Man, terbitan
tahun 1871. Sejak saat itu hingga sekarang, para pengikut jalanDarwin telah mencoba mendukung
pernyataannya.Tetapi
meskipun berbagai penelitian
telah dilakukan, pernyataan mengenai "evolusi manusia" tidak didukung
oleh penemuan ilmiah yang nyata, khususnya dalam hal fosil.
Kebanyakan masyarakat awam tidak
menyadari kenyataan ini, dan berfikir bahwa pernyataan evolusi manusia didukung
oleh banyak bukti yang kuat.Penyebab adanya opini yang keliru ini adalah bahwa
permasalahan ini sering dibahas dalam media dan dihadirkan sebagai fakta yang
terbukti.Tetapi yang benar-benar ahli dalam masalah ini menyadari bahwa tidak ada
landasan ilmiah bagi pernyataan evolusi manusia. David Pilbeam, ahli
paleoanthropologi dariHarvard University,
mengatakan: “Jika
Anda mengundang seorang ilmuwan dari bidang ilmu yang lain dan menunjukkan
padanya sedikitnya bukti yang kita miliki iatentu akan mengatakan,
"Lupakan saja; itu tidak cukup untuk diteruskan.”
Dan William Fix,
seorang penulis sebuah buku penting dalam bidang paleoanthropologi,
berkomentar: “Seperti yang telah kita lihat, ada banyak ilmuwan dan orang-orang
populer saat ini yang memiliki nyali untuk mengatakan bahwa ‘tidak ada
keraguan’ tentang bagaimana manusia berasal. Jika saja mereka memiliki bukti.”
Tetapi apakah
landasan gagasan evolusi manusia yang diajukan oleh para evolusionis?Ialah
adanya banyak fosil yang dengannya para evolusionis bisa membangun
tafsiran-tafsiran khayalan.Sepanjang sejarah, telah hidup lebih dari 6.000
spesies kera, dan kebanyakan dari mereka telah punah.Saat ini, hanya 120
spesies yang hidup di bumi. Enam ribu atau lebih spesies kera ini, di mana
sebagian besar telah punah, merupakan sumber yang melimpah bagi evolusionis.Pernyataan
evolusi ini, yang "miskin akan bukti," memulai pohon kekerabatan
manusia dengan satu kelompok kera yang telah dinyatakan membentuk satu genus
tersendiri, Australopithecus.
Menurutpernyataan ini, Australopithecus secara bertahap mulai berjalan
tegak, otaknya membesat, dan ia melewati serangkaian tahapan hingga mencapai
tahapan manusia sekarang (Homo sapiens). Tetapi rekaman fosil tidak
mendukung skenario ini.Meskipun dinyatakan bahwa semua bentuk peralihan ada,
terdapat rintangan yang tidak dapat dilalui antara jejak fosil manusia dan
kera. Lebih jauh lagi, telah terungkap bahwa spesies yang digambarkan sebagai
nenek moyang satu sama lain sebenarnya adalah spesies masa itu yang hidup pada
periode yang sama. Ernst Mayr, salah satu pendukung utama teori evolusi abad
ke-20, berpendapat dalam bukunya One
Long Argument bahwa
"khususnya [teka-teki] bersejarah seperti asal usul kehidupan atau Homo sapiens, adalah sangat
sulit dan bahkan mungkin tidak akan pernah menerima penjelasan akhir yang
memuaskan."
Di lain pihak, terdapat perbedaan
yang berarti dalam susunan anatomi berbagai ras manusia. Terlebih lagi,
perbedaannya semakin besar antara ras prasejarah, karena seiring dengan waktu
ras manusia setidaknya telah bercampur satu sama lain dan terasimilasi.
Meskipun demikian, perbedaan penting masih terlihat antara berbagai kelompok
populasi yang hidup di dunia saat ini, seperti, sebagai contoh, ras
Scandinavia, suku pigmi Afrika, Inuits, penduduk asli Australia, dan masih banyak
lagi yang lain.
Tidak terdapat bukti untuk
menunjukkan bahwa fosil yang disebut hominid oleh ahli paleontologi evolusi
sebenarnya bukanlah milik spesies kera yang berbeda atau ras manusia yang telah
punah. Dengan kata lain, tidak ada contoh bagi satu bentuk peralihan antara
manusia dan kera yang telah ditemukan.
Pernyataan Darwin mendukung bahwa
manusia modern berevolusi dari sejenis makhluk yang mirip kera. Selama proses
evolusi tanpa bukti ini, yang diduga telah dimulai dari 5 atau 6 juta tahun
yang lalu, dinyatakan bahwa terdapat beberapa bentuk peralihan antara manusia
moderen dan nenek moyangnya. Menurut skenario yang sungguh dibuat-buat ini,
ditetapkanlah empat kelompok dasar sebagai berikut:
a. Australophithecines
(berbagai bentuk yang termasuk dalam genus Australophitecus)
b. Homo
habilis
c. Homo
erectus
d. Homo
sapiens
Genus yang dianggap sebagai nenek
moyang manusia yang mirip kera tersebut oleh evolusionis digolongkan sebagai Australopithecus, yang berarti "kera dari
selatan." Australophitecus, yang tidak lain adalah jenis kera
purba yang telah punah, ditemukan dalam berbagai bentuk. Beberapa dari mereka
lebih besar dan kuat (tegap), sementara yang lain lebih kecil dan rapuh (lemah).
Para evolusionis menggolongkan tahapan
selanjutnya dari evolusi manusia sebagai genus Homo, yaitu "manusia."Menurut
pernyataan evolusionis, makhluk hidup dalam kelompok Homo lebih berkembang daripadaAustralopithecus,
dan tidak begitu berbeda dengan manusia moderen.Manusia moderen saat ini, yaitu
spesies Homo sapiens,
dikatakan telah terbentuk pada tahapan evolusi paling akhir dari genus Homo ini. Fosil seperti "Manusia Jawa," "Manusia Peking," dan "Lucy," yang muncul dalam media
dari waktu ke waktu dan bisa ditemukan dalam media publikasi dan buku acuan
evolusionis, digolongkan ke dalam salah satu dari empat kelompok di atas.
Setiap pengelompokan ini juga dianggap bercabang menjadi spesies dan
sub-spesies, mungkin juga.Beberapa bentuk peralihan yang diusulkan dulunya,
seperti Ramapithecus, harus dikeluarkan dari rekaan
pohon kekerabatan manusia setelah disadari bahwa mereka hanyalah kera biasa.
Akan tetapi, penemuan terbaru ahli
paleoanthropologi mengungkap bahwa australopithecines, Homo habilis danHomo erectus hidup di berbagai tempat di bumi pada
saat yang sama. Lebih jauh lagi, beberapa jenis manusia yang digolongkan
sebagai Homo erectuskemungkinan
hidup hingga masa yang sangat modern. Dalam sebuah artikel berjudul "Latest
Homo erectus of Java: Potential Contemporaneity with Homo sapiens ini Southeast Asia," dilaporkan
bahwa fosil Homo erectus yang ditemukan di Jawa memiliki umur
rata-rata 27 ± 2 hingga 53.3 ± 4 juta tahun yang lalu dan ini memunculkan
kemungkinan bahwa Homo erectus hidup
semasa dengan manusia beranatomi modern (Homo sapiens)
di Asia tenggara
Lebih jauh lagi, Homo sapiens neanderthalensis (manusia Neanderthal) dan Homo sapiens sapiens (manusia moderen) juga dengan jelas
hidup bersamaan. Hal ini sepertinya menunjukkan ketidakabsahan pernyataan bahwa
yang satu merupakan nenek moyang bagi yang lain.
Pada dasarnya, semua penemuan dan
penelitian ilmiah telah mengungkap bahwa rekaman fosil tidak menunjukkan suatu
proses evolusi seperti yang diusulkan para evolusionis. Fosil-fosil, yang
dinyatakan sebagai nenek moyang manusia oleh evolusionis, sebenarnya bisa milik
ras lain manusia atau milik spesies kera.
Pernyataan bahwa Australopithecus dan Homohabilis berjalan tegak dibantah oleh analisis
telinga dalam yang dilakukan oleh Fred Spoor. Ia bersama kelompoknya
membandingkan pusat-pusat keseimbangan di telinga dalam, dan menunjukkan kedua
spesies bergerak dengan cara yang sama seperti kera masa kini.
Alan Thorne dan Philip Macumber
yang menemukan kedua tengkorak ini, menafsirkan keduanya sebagai tengkorak Homo sapiens, padahal keduanya
memiliki banyak ciri yang mengingatkan kita pada Homo erectus. Satu-satunya alasan mengapa
keduanya dianggap Homo sapiens adalah fakta bahwa keduanya
diperkirakan berumur 10 ribu tahun. Para evolusionis tak berharap menerima
fakta bahwa Homo erectus,
yang mereka anggap sebagai spesies "purba" dan hidup 500 ribu tahun
sebelum manusia masa kini, adalah suatu ras manusia yang hidup 10 ribu tahun
yang lalu.
Kebudayaan Berlayar Homo
erectus "Ancient mariners: Early humans were much smarter than we suspected "
(Pelaut purba: manusia kuno lebih pintar dari yang kita sangka). Menurut
artikel New Scientist terbitan 14 Maret 1998 ini,
manusia yang dinamai Homo
erectus oleh evolusionis,
telah melakukan pelayaran sejak 700 ribu tahun yang lalu. Tentu saja, mustahil
menganggap manusia yang mempunyai pengetahuan, teknologi, dan budaya berlayar
sebagai purba.
Sebuah tulang muka yang ditemukan
di Atapuerca di Spanyol, menunjukkan bahwa manusia dengan struktur wajah yang
sama dengan kita telah hidup pada 800 ribu tahun yang lalu.Jejak kaki manusia
yang berumur 3,6 juta tahun di
Laetoli, Tanzania.
Manusia berasal dari kera yang
mengalami proses panjang hingga menjadi bentuk yang sempurna. Disamping itu juga
manusia memiliki akal pikiran yang tidak dimiliki oleh makhluk ciptaan Tuhan
lainnya. Manusia dengan segala anugerah yang dimiliknya seharusnya lebih
menghargai ciptaan Tuhan. Kita patut berbangga menjadi manusia yang mempunyai
akal pikiran.
2.
Teori Revolusi Menurut Pandangan
Islam
Asal Mula Manusia berdasarkan
Al-Qur’an (Nabi Adam a.s) Saat Allah Swt. merencanakan penciptaan manusia,
ketika Allah mulai membuat “cerita” tentang asal-usul manusia, Malaikat Jibril
seolah khawatir karena takut manusia akan berbuat kerusakan di muka bumi. Di
dalam Al-Quran, kejadian itu diabadikan:
“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu
berfirman kepada para malaikat, ‘Sesungguhnya, Aku akan menciptakan seorang
manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi
bentuk.Maka, apabila Aku telah menyempurnakan kejadiannya, dan telah meniupkan
ke dalamnya ruh (ciptaan)-Ku, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud”
(QS. Al Hijr: 28-29).
Firman inilah yang membuat malaikat
bersujud kepada manusia, sementara iblis tetap dalam kesombongannya dengan
tidak melaksanakan firman Allah.Inilah dosa yang pertama kali dilakukan oleh
makhluk Allah yaitu kesombongan.Karena kesombongan tersebut Iblis menjadi
makhluk paling celaka dan sudah dipastikan masuk neraka.Kemudian Allah
menciptakan Hawa sebagi teman hidup Adam.Allah berpesan pada Adam dan Hawa
untuk tidak mendekati salah satu buah di surga, namun Iblis menggoda mereka
sehingga terjebaklah Adam dan Hawa dalam kondisi yang menakutkan.[3]Allah
menghukum Adam dan Hawa sehingga diturunkan kebumi dan pada akhirnya Adam dan
Hawa bertaubat.Taubat mereka diterima oleh Allah, namun Adam dan Hawa menetap
dibumi.
Adam adalah ciptaan Allah yang
memiliki akal sehingga memiliki kecerdasan, bisa menerima ilmu pengetahuan dan
bisa mengatur kehidupan sendiri. Inilah keunikan manusia yang Allah ciptakan
untuk menjadi penguasa didunia, untuk menghuni dan memelihara bumi yang Allah
ciptakan.Dari Adam inilah cikal bakal manusia diseluruh permukaan bumi.Melalui
pernikahannya dengan Hawa, Adam melahirkan keturunan yang menyebar ke berbagai
benua diseluruh penjuru bumi; menempati lembah, gunung, gurun pasir dan wilayah
lainnya diseluruh penjuru bumi. Hal ini dijelaskan dalam firman Allah SWT yang
berbunyi: “Dan sesungguhnya Kami muliakan anak-anak Adam; Kami angkut mereka
didaratan dan di lautan; Kami berikan mereka rezeki dari yang baik-baik dan
Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyak makhluk yang
telah Kami ciptakan.” (QS. Al-Isra’
[17]: 70).
Al-Qur’an menyatakan proses penciptaan manusia
mempunyai dua tahapan yang berbeda, yaitu: Pertama, disebut dengan tahapan primordial. Manusia pertama, Adam a.s. diciptakan
dari al-tin (tanah), al-turob (tanah debu), min
shal(tanah liat), min
hamain masnun (tanah
lumpur hitam yang busuk) yang dibentuk Allah dengan seindah-indahnya, kemudian
Allah meniupkan ruh dari-Nya ke dalamA diri (manusia) tersebut (Q.S, Al An’aam
(6):2, Al Hijr (15):26,28,29, Al Mu’minuun (23):12, Al Ruum (30):20, Ar Rahman
(55):4).
Kedua, disebut dengan tahapan biologi. Penciptaan manusia selanjutnya adalah
melalui proses biologi yang dapat dipahami secara sains-empirik. Di dalam
proses ini, manusia diciptakan dari inti sari tanah yang dijadikan air mani (nuthfah) yang tersimpan dalam tempat yang kokoh
(rahim).
Kemudian nuthfah itu dijadikan darah beku (‘alaqah) yang menggantung dalam rahim. Darah
beku tersebut kemudian dijadikan-Nya segumpal daging (mudghah) dan kemudian dibalut dengan tulang
belulang lalu kepadanya ditiupkan ruh (Q.S, Al Mu’minuun (23):12-14). Hadits
yang diriwayatkan Bukhari dan Muslim menyatakan bahwa ruh dihembuskan Allah
swt.ke dalam janin setelah ia mengalami perkembangan 40 hari nuthfah, 40 hari ‘alaqah dan 40 hari mudghah.
Penciptaan
manusia dan aspek-aspeknya itu ditegaskan dalam banyak ayat. Beberapa di
antaranya sebagai berikut:
a.
Manusia
tidak diciptakan dari mani yang lengkap, tetapi dari sebagian kecilnya
(spermazoa).
b.
Sel
kelamin laki-lakilah yang menentukan jenis kelamin bayi.
c.
Janin
manusia melekat pada rahim sang ibu bagaikan lintah.
d.
Manusia
berkembang di tiga kawasan yang gelap di dalam rahim.
e.
Setetes Mani
Sebelum proses
pembuahan terjadi, 250 juta sperma terpancar dari si laki-laki pada satu waktu
dan menuju sel telur yang jumlahnya hanya satu setiap siklusnya. Sperma-sperma melakukan
perjalanan yang sulit di tubuh si ibu sampai menuju sel telur karena saluran reproduksi
wanita yang berbelok-belok, kadar keasaman
yang tidak sesuai dengan sperma, gerakan ‘menyapu’ dari dalam saluran
reproduksi wanita, dan juga gaya gravitasi yang berlawanan. Sel telur hanya
akan membolehkan masuk satu sperma saja.
Artinya, bahan
manusia bukan mani seluruhnya, melainkan hanya sebagian kecil darinya. Ini
dijelaskan dalam Al-Qur’an :“Apakah manusia mengira akan dibiarkan tak
terurus? Bukankah ia hanya setitik mani yang dipancarkan?” (QS Al Qiyamah:36-37).
a.
Segumpal Darah Yang Melekat di
Rahim
Setelah lewat 40
hari, dari air mani tersebut, Allah menjadikannya segumpal darah yang disebut
‘alaqah. “Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal darah”. (Al
‘Alaq:2).
Ketika sperma
dari laki-laki bergabung dengan sel telur wanita, terbentuk sebuah sel tunggal
yang dikenal sebagai “zigot” , zigot ini akan segera berkembang biak dengan
membelah diri hingga akhirnya menjadi “segumpal daging”. Tentu saja hal ini
hanya dapat dilihat oleh manusia dengan bantuan mikroskop.
Tapi, zigot
tersebut tidak melewatkan tahap pertumbuhannya begitu saja.Ia melekat pada
dinding rahim seperti akar yang kokoh menancap di bumi dengan carangnya.
Melalui hubungan semacam ini, zigot mampu mendapatkan zat-zat penting dari
tubuh sang ibu bagi pertumbuhannya. Pada bagian ini, satu keajaiban penting
dari Al Qur’an terungkap.Saat merujuk pada zigot yang sedang tumbuh dalam rahim
ibu, Allah menggunakan kata “alaq” dalam Al Qur’an.Arti kata “alaq” dalam
bahasa Arab adalah “sesuatu yang menempel pada suatu tempat”.Kata ini secara
harfiah digunakan untuk menggambarkan lintah yang menempel pada tubuh untuk
menghisap darah.
b.
Pembungkusan Tulang oleh Otot
Disebutkan dalam
ayat-ayat Al Qur’an bahwa dalam rahim ibu, mulanya tulang-tulang terbentuk, dan
selanjutnya terbentuklah otot yang membungkus tulang-tulang ini.
“Kemudian air
mani itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan
segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang-belulang, lalu
tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian Kami jadikan dia
makhluk yang (berbentuk) lain. Maka Maha Sucilah Allah, Pencipta Yang Paling
Baik” (QS Al Mu’minun:14)
Para ahli
embriologi beranggapan bahwa tulang dan otot dalam embrio terbentuk secara
bersamaan.Karenanya, sejak lama banyak orang yang menyatakan bahwa ayat ini
bertentangan dengan ilmu pengetahuan.Namun, penelitian canggih dengan mikroskop
yang dilakukan dengan menggunakan perkembangan teknologi baru telah mengungkap
bahwa pernyataan Al-Qur’an adalah benar kata demi katanya.[4]
Penelitian di
tingkat mikroskopis ini menunjukkan bahwa perkembangan dalam rahim ibu terjadi
dengan cara persis seperti yang digambarkan dalam ayat tersebut. Pertama,
jaringan tulang rawan embrio mulai mengeras.Kemudian sel-sel otot yang terpilih
dari jaringan di sekitar tulang-tulang bergabung dan membungkus tulang-tulang
ini.
c.
Saripati Tanah dalam Campuran
Air Mani
Cairan yang
disebut mani tidak mengandung sperma saja. Ketika mani disinggung di Al-Qur’an,
fakta yang ditemukan oleh ilmu pengetahuan modern, juga menunjukkan bahwa mani
itu ditetapkan sebagai cairan campuran: “Dialah Yang menciptakan segalanya
dengan sebaik-baiknya, Dia mulai menciptakan manusia dari tanah liat. Kemudian
Ia menjadikan keturunannya dari sari air yang hina.” (Al-Qur’an, 32:7-8).
B. Visi
dan Misi Penciptaan Manusia
1.
Visi Penciptaan
Manusia
Segala sesuatu yang Allah ciptakan,
baik di langit maupun di bumi pasti ada tujuan dan hikmahnya.Tidaklah semata
mata karena hanya suka-suka saja.Bahkan seekor nyamuk pun tidaklah diciptakan
sia-sia. Allah Ta’ala berfirman,
“Maka apakah kamu mengira, bahwa sesungguhnya Kami menciptakan kamu
secara main-main (saja), dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami?”
(QS. Al Mukminun:115).
Visi yang baik
memiliki ciri-ciri tertentu.Adapun ciri-ciri visi yang baik itu , adalah
sebagai berikut :
a.
Terukur
dan spesifik.
b.
Fleksibel
dan tidak kaku.
c.
Realistis
dan sesuai dengan kemampuan serta bakat yang kita miliki.
d.
Menarik
dan kita tertantang untuk meraihnya.
e.
Jelas
dan mudah dipahami.
f.
Sederhana,
tidak terlalu panjang dan mudah diingat.
Berikut adalah visi
utama penciptaan manusia yaitu
Mengilmui Tentang Allah. Allah Ta’ala berfirman:
“Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan
seperti itu pula bumi.Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya
Ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.”
(QS. Ath Thalaq: 12).
Allah menceritakan bahwa penciptaan
langit dan bumi, agar manusia mengetahui tentang ke Maha Kuasaan Allah Ta’ala,
bahwa Allah lah pemilik jagad raya ini dengan ilmu Allah yang sempurna. Tidak
ada satu pun yang terluput dari ilmu dan pengawasan Allah, karena ilmu Allah
meliputi segala sesuatu
2.
Misi Penciptaan
Manusia
Misi adalah alasan keberadaan, amanah yaitu sudah ada
dalam diri manusia sendiri. Sedangkan visi adalah keadaan dimasa mendatang yang
ingin dicapai seperti hal nya cita-cita.
Misi manusia hidup didunia sudah jelas untuk beribadah
,sedangkan visi setiap manusia mungkin belum semuanya jelas dan berbeda-beda
untuk masing-masing manusia itu sendiri,jadi visi sebagai tujuan sedangkan misi
sebagai aksi-aksi untuk mencapai suatu tujuan.
Tujuan penciptaan manusia yaitu konsep tentang desain
penciptaan,manusia didesain atau dirancang sebagai mahluk yang mengabdi dan
beribadah kepada Allah.Karena manusia didesain untuk beribadah dan bersujud
kepada Allah, maka tentu saja eksistensinya atau keberadaan manusia akan
tergantung kepada seberapa jauh dia menyesuaikan diri dengan rancangan awal
penciptaannya.
Ayat Al-Qur’an yang berhubungan dengan visi dan misi
penciptaan manusia adalah surat Adz-Dzaryat ayat 56 . Artinya: ”Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka menyembah Ku.” (Q.S Adz-Dzariyat : 56)
Pada surat Adz-Dzaryat ayat 56 ini, Allah menjelaskan
bahwa visi,misi,dan tugas manusia adalah untuk menyembah dan beribadah kepada Allah,
baik ibadah secara hablumminnas maupun hablumminnallah. Hal ini juga memberi pengertian
bahwa tujuan penciptaan manusia hanyalah untuk menyembah Allah SWT karena
itulah dapat kita lihat bahwa dakwahRasulullah SAW di Mekkah adalah mengajak
manusia kepada kebenaran menyembah Allah. Namun ini bukan berarti bahwa Allah
butuh disembah,sebab menurut Taba’taba’i hal itu mustahil bagi Allah swt[5].Namun
sesuatu yang tidak memiliki tujuan adalah perbuatan sia-sia .
Yang harus dihindari,dengan demikian harus dipahami bahwa
ada tujuan bagi Allah dalam perbuatannya.Ibadah adalah tujuan penciptaan
manusia dan kesempurnaan yang kembali kepada penciptaan.Allah swt menciptakan
manusia untuk memberinya ganjaran.
Pada ayat itu juga dijelaskan bahwa misi penciptaan
manusia yaitu sebagai hamba Allah yang menyembah–Nya sesuai yang di perintahkan,sebagai
khalifah dimuka bumi yang bertugas memakmurkannya dan berusaha menegakkan
keadilan Allah. Kesuksesan dan kegagalan inilah yang nantinya menentukan
bagaiman balasan yang adil baginya di akhirat nanti. Sedangkan visi penciptaan
manusia adalah manusia agar bersujud kepada Allah; bersyukur,berdoa,dan
bersujud kepada Allah. Rasa syukur itu harus tetap ada pada diri manusia, Rasullullah
SAWpernah berdoa seperti berikut: “Wajahku bersujud kepada Dzat yang telah
menciptakannya,memberinya rupa,pendengaran,dan penglihatan. Maka Maha Suci Allah
sebagai pencipta yang paling baik.” (HR.Muslim)
Wujud dari visi dan misi penciptaan manusia terdapat pada
surat Al-An’nam ayat 162-163 yang artinya sebagai berikut:“Katakanlah:sesungguhnya
shalatku, ibadahku,hidupku,dan matiku hanya untuk Allah, Tuhan semesta
alam,tiada sekutu Bagi-Nya. Dan demikian itu yang diperintahkan kepadaku dan
aku adalah orang yan pertama-tama menyerahkan diri (kepada Allah)”.
Manusia dalam
beribadah hendaklah hanya mengharap ridha Allah. Hidup dan mati pun hanya
mengharap ridhaAllah. Menjauhkan
diri dari sifat kemusyrikan dan agar ibadah nya hanya diterima Allah hendaklah
dengan iklas,sabar,dan tawakal.
Selain surat Adz-Dzariyyat ayat 56 yang menjelaskan visi dan misi
penciptaan manusia juga ada surat yang menjelaskan visi dan misi penciptaan
manusia yaitu surat Al-Bayyinah ayat 5,
”Padahal mereka tidak disuruh kecuali
supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada Allah dalam
menjalankan agama yang lurus,dan supaya mereka mendirikan shalat,dan menunaikan
zakat,dan yang demikian itulah agama yang lurus.”
Dalam ayat ini
dijelaskan bahwa manusia diciptakan hanya untuk menyembah kepada Allah
SWT,memurnikan dalam beribadah dan menjauhkan dari syirik, sebagai wujud dari ketaatan
kepada Allah SWT dengan menjalankan sholat dan zakat atau memberikan sebagian
rezekinya kepada orang yang berhak.Paling tidak ada lima misi utama sebagai berikut[6]
a.
Beribadah Kepada Allah Secara Tulus
Tujuan penciptaan manusia adalah untuk beribadah kepada Allah. Firman Allah
dalam surat adz-dzariyat ayat 56, yang artinya : “Dan Aku tidak menciptakan jin
dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. Ibadah (al-‘ibadah) secara
bahasa mempunyai arti ketaatan, pengabdian, kepatuhan atau tunduk dan
penghambaan diri kepada Allah.Ibadah menurut Yusuf Qardhowi adalah puncak
perendahan diri seseorang manusia yang berkaitan dengan puncak kecintaan kepada
Allah.
Banyak bentuk dan jenis ibadah dalam Islam, antara lain yang
disebutkan dalam rukun Islam, yaitu salat, puasa, zakat dan haji. Selain itu,
para ulama mempertegas bahwa seluruh aktivitas Muslim yang tidak bertentangan
dengan syari’at, dikerjakan dengan ikhlas dan ingin mengharapkan keridhaan Allah
adalah ibadah.
Ibadah wajib yang bersifat harian adalah salat. Salat sebagai ibadah
pertama diwajibkan dan juga merupakan ibadah pertama yang akan dihisab di
akhirat perlu mendapat perioritas dalam kehidupan seorang muslim. Idealnya
aktivitas pertama dan terakhir dalam kehidupan Muslim adalah salat. Artinya
kegiatan pertama dilakukan waktu pagi adalah dengan melaksanakan salat Subuh
dan menutup keseluruhan aktivitas dengan salat Isya. Bila bertemu dua kegiatan
pada waktu yang bersamaan dengan waktu salat, maka seorang muslim harus
melaksnakan salat terlebih dahulu. Ibadah salat dipandang berkualitas jika :
dikerjakan di awal waktu, dilakukan secara berjama’ah, memenuhi syarat dan
rukun, khusyuk dan dikerjakan dengan ikhlas.
b.
Bekerja Dengan Landasan Moral Agama
Berkaitan dengan kerja dalam Alqur’an surah An-Naba’ ayat 11 Allah
berfirman yang artinya : “Kami jadikan waktu siang untuk mencari penghidupan”.
Selain itu dalam surat al-Jumu’ah ayat 10, yang artinya : “Apabila telah
ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah karunia
Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung”.
Persepsi sebahagian masyarakat kita tentang kerja adalah keliru.Kerja
dipahami sebagai suatu kegiatan yang menghasilkan secara konkrit, mendatangkan keuntungan
secara materi atau memperoleh jasa atau gaji (upah) dari pekerjaannya
itu.Pemahaman tersebut adalah lebih bersifat formal dan merupakan bagian dari
makna kerja yang sesungguhnya menurut konsep Islam.
Islam memandang bahwa kerja itu amatlah luas, baik yang dapat
menghasilkan atau tidak menghasilkan secara konkrit.Setiap Muslim sejak dia
bangun tidur, hingga dia tidur kembali, apapun yang dilakukannya disebut dengan
kerja.Lebih jauh dari itu, seorang yang secara fisik tidak bekerja atau dalam
keadaan tidak bergerak, tapi akal dan fikirannya difungsikan secara aktif, maka
dapat digolongkan kepada makna kerja.Demikian juga orang yang hatinya selalu
dalam keadaan berzikir kepada Allah SWT.
Allah SWT telah memberikan paling tidak tiga daya kepada manusia,
yaitu daya gerak, daya fikir dan daya kalbu. Setiap gerakan positif yang
dilakukan oleh seorang muslim adalah amal saleh. Berfikir dan mencurahkan
nalarnya untuk belajar, mengajar dan untuk kemaslahatan umat juga amal
saleh.Selanjutnya, niat yang terbuhul dalam hati dan mengingat Allah (zikir)
juga merupakan amal kebaikan yang mendapat nilai di sisi Allah SWT.Oleh sebab
itu, kerja dalam pengertian luas adalah semua bentuk kegiatan, gerak atau usaha
(ikhtiar) yang dilakukan oleh manusia.
c.
Membangun Keluarga Yang Islami
Seorang Muslim tidak boleh hanya asyik berkerja, akan tetapi harus
pula membagi waktu untuk kepentingan keluarga. Penyediaan waktu untuk keluarga
antara lain dalam tujuan pendidikan dan menjalin hubungan kasih sayang dengan
isteri/suami dan anak. Dasar perencanaan ini adanya perintah Allah dalam surat
At-tahrim ayat 6, yang artinya : “Hai orang-orang beriman peliharalah dirimu
dan keluargamu dari api nereka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu;
penjaganya malaikat-malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak merdurhakai
Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan
apa yang diperintahkan”.
Kewajiban utama dalam pemenuhan berbagai kebutuhan keluarga adalah
suami.Namun dalam waktu yang bersamaan suami dan isteri juga harus bersama-sama
dalam membina keluarga yang Islami.Keluarga Islami dicirikan pada beriman
kepada Allah dan megakkan ajaran agama dalam keluarga secara bersama-sama.
Tapi problem kehidupan keluarga modern – suami dan isteri bekerja
-adalah sedikit sekali waktu untuk anak-anak mereka. Orang tua sering berdalih
bahwa ia kerja adalah untuk anak-anak mereka. Tapi karena kurang kontrol dan
pengawasann, sehingga anak-anak mereka terlibat dalam norkoba misalnya.
Berkaitan dengan pembinaan keluarga, Dr. Abdullah Nashih Ulwan
menawarkan lima konsep dalam pendidikan anak. Pertama, Orang tua harus selalu
menasehatkan anak-anaknya.Kedua, orang tua hendaknya selalu memberikan contoh
yang baik.Ketiga, Anak harus dibiasakan melakukan hal-hal yang baik.Keempat, bila
anak berprestasi dan berbuat baik, maka harus diberikan penghargaan dan jika
melakukan kesalahan harus diberikan teguran atau peringatan.Kelima, orang tua
harus selalu mengontrol aktivitas anak.
d.
Membangun Masyarakat Bermoral
Dalam kaitan ini ahli hikmah berkata : “Kambing jika berkelompok,
harimaupun akan takut, tapi jika menyendiri, akan menjadi santapan harimau”.
Kemudian ahli sosiologi juga menyebutkan, manusia merupakan makhluk
bermasyarakat (zoon politicon).Artinya keinginan untuk bermasyarakat sudah
merupakan pembawaan atau naluriyah manusia. Apalagi dilihat dari sisi
ketergantungan, memang manusia tidak bisa melepaskan diri dari orang lain.
Islam sangat menganjurkan agar kita selalu bersilaturrrahmi, sebagai
upaya memperkokoh pilar kehidupan sosial. Menurut Nabi silaturrahmi itu
mempunyai dua manfaat, yaitu mudah rezeki dan panjang usia. Selain itu, tentu
untuk menjalin hubungan kasih sayang melalui saling kunjung mengunjungi. Itulah
sebabnya maka dalam ajaran Islam wajib memenuhi undangan orang lain. Apakah itu
undangan perkawinan, undangan aqiqah, kenduri sunat rasul dan undangan
keperluan lainnya.
e.
Memelihara Kesehatan Pribadi.
Kesehatan adalah amat penting dalam pelaksanaan keempat misi di
atas.Kesehatan yang prima akan dapat diwujudkan melalui tidur yang cukup,
istirahat, olah raga dan berobat secara rutin. Berkaitan dengan istirahat dan
tidur, dalam surah An-Naba’ ayat 9-11 Allah berfirman yang artinya: “Dan Kami
jadikan tidurmu untuk istirahat. Dan Kami jadikan waktu malam sebagai pakaian
dan kami jadikan siang untuk bekerja”.Akhirnya, jika kelima program utama di
atas yang merupakan misi hidup Muslim dapat diprogram dan dilaksanakan dengan
baik, maka visi muslim akan tercapai.
C.
Sebutan Nama Lain Manusia dalam Al-Quran
dan Keistimewaannya
1. Sebutan Nama Lain Manusia
Dalam penyebutan nama manusia,
Allah menyebutkan banyak nama dalam Al-Quran. Setidaknya ada 4 sebutan nama
manusia dalam Al-Quran yang paling banyak disebut yaitu Al-Insan, Al-Basyar,
Bani Adam, An-Nas[7].
Nama-nama tersebut juga bisa dianggap sebagai tingkatan umat manusia dalam
kehidupannya di dunia ini.
a. Al-Insan
Asal kata dari Insan berasal dari
kata ‘’al-uns’’, Dan sebanyak 65 kali disebutkan dan tersebar di dalam 43
surat. Insan dapat diartikan lemah lembut, harmonis, tampak, atau pelupa. Kata ini digunakan
dalam Al-Qur’an untuk menyampaikan tentang manusia yang kemanusiaannya secara
totalitas jiwa
dan raga. Manusia yang telah sampai pada segi insan yang sempurna yakni
‘’kamil’’, bermakna: ‘’manusia sempurna’’, yang memang susah ditemukan. Karena
umumnya manusia seperti ini memilih menepi meninggalkan segala hiruk pikuk
dunia.
Dalam penjelasan di Al-Quran ada pada surat Al-Insan
ayat 1
“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia
ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?”
Maksud dari ayat ini adalah
dibicarakan perihal penciptaan dan cobaan kepada umat manusia yang berpotensi
untuk bersyukur kepada Allah atau mengingkari-Nya. Balasan yang akan diberikan
kepada orang-orang kafir, dalam surat ini, dibicarakan secara global. Sementara
mengenai kenikmatan-kenikmatan yang Allah karuniakan kepada orang-orang Mukmin
dipaparkan secara lebih rinci.
Insan berarti manusia dalam arti yang sebenarnya. Insan tidak menunjuk pada manusia biologis. Insan lebih terkait dengan
kualitas luhur kemanusiaan. Insan adalah makhluk yang menjadi (becoming). Ia terus-menerus maju menuju ke kesempurnaan.
Karakter “menjadi” ini membedakan manusia dengan fenomena lain di alam. Sebagai contoh, semut dan serangga lainnya tidak
pernah dapat melampaui keadaannya; ia menggali lubang dengan cara yang sama
sebagaimana ia melakukanya 15 juta tahun yang lampau di Afrika. Tidak usah
memandang di mana, kapan dan bagaimana, semut selalu dalam keadaan yang sama,
pasti dan tidak dapat berubah-rubah.
Wujud kongkrit tiga sifat insan
tersebut adalah ilmu. Ilmu membebaskan manusia dari kerangkeng alam, sejarah
dan masyarakat. Dengan ilmu, insan mengetahui
hukum-hukum yang berlaku di alam, masyarakat dan sejarah. Sehingga, insan kuasa untuk lolos dari tiga penjara tersebut bahkan sekaligus mampu
merekayasa ketiga determinan itu. Sementara itu, penjara terakhir manusia,
yakni penjara ego (diri), tidak dilawan dengan ilmu, tapi dengan cinta.
Cinta memiliki kekuatan yang mendorong manusia untuk menolak,
memberontak, dan mengorbankan diri demi suatu cita-cita atau orang lain. Jadi,
secara singkat, manusia berevolusi ke Yang Tak Terhingga, ke kesempurnaan
berbekal tiga sifat dasariahnya. Tiga sifat, yang bentuk nyatanya adalah
ilmu, adalah instrumen pembebasan manusia dari tiga penjara manusia, yaitu
penjara alam, sejarah dan masyarakat. Sedangkan, penjara terakhir (ego) dilawan
dengan cinta kasih. Kemerdekaan dari kolonialisasi empat determinan itu
mengantar manusia ke puncak kesempurnaan kemanusiaannya.
b. Al-Basyar
Manusia dengan gelar ‘’basyarun’’
disebutkan sebanyak 36 kali, dan tersebar di dalam 26 surah.Secara etimologi
‘’basyar’’ berarti kulit kepala, wajah, dan tubuh yang menjadi tempat tumbuhnya
segala macam rambut.Selain itu, ayat ini menjelaskan bila manusia dipenuhi
dengan keterbatasan termasuk membutuhkan makan dan minum.Berikut ayat yang
menjelaskan tentang basyarun, dikisahkan oleh Muhammad SAW, yakni manusia yang
terdiri dari berbagai organ tersebut sangat rentan melakukan persekutuan kepada
Allah SWT’’.
Penjelasan daalam Al-Quran ada pada
surat Al-Hijr ayat 28:
“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu
berfirman kepada para malaikat: "Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang
manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi
bentuk,”
Manusia terbuat dari tanah kering
dan tidak dapat memungkirinya. Dan diatas kulit-kulit yang terbuat dari tanah,
tumbuh segala macam rambut. (Tafsir Jalalayn)
Basyar
adalah makhluk yang sekedar ada (being). Artinya, manusia
dalam kategori basyar adalah makhluk
statis, tidak mengalami perubahan, berkaki dua yang berjalan tegak di muka
bumi. Oleh karenanya, manusia memiliki definisi yang sama sepanjang zaman,
terlepas dari ruang dan waktunya. Singkatnya, basyar adalah manusia dalam arti fisis-biologis. Manusia dilihat
sudut fisik tidaklah jauh berbeda dengan hewan. Manusia bisa makan, minum,
tidur, sakit dan mati. Begitu pula hewan. Bahkan, bila manusia dan hewan
dibandingkan dari segi perbuatan nistanya, maka manusia lebih inferior dari
hewan (dalam arti bisa lebih jahat dan kejam).
Perbuatan-perbuatan rendah manusia tak
pernah berubah, hanya instrumennya saja yang berubah. Seorang sejarahwan
menjelaskan bahwa penguasa masa lalu, seperti Gengis Khan, dengan penguasa modern
tidaklah berbeda dari segi kebuasannya. Perbedaannya hanya terletak pada
instrumen dan argumentasinya saja. Penguasa masa lalu memiliki
senjata-senjata sederhana, dan mereka pun tak segan memproklamirkan bahwa
mereka sengaja membunuh. Sementara itu, penguasa modern mempunyai
senjata-senjata super-canggih untuk membunuh, dan mereka melakukan
pembunuhan atas nama kedamaian. Sehingga
memberi penilaian bahwa dewasa ini
kejahatan, kepalsuan, kelancungan, pembunuhan, sadisme, dan kekejaman lebih
banyak, lebih dahsyat dari pada masa lalu. Tendensi negatif manusia itu
merupakan representasi dari manusia dalam arti basyar. Manusia tipe basyar
belum mampu melepaskan diri dari penjara-penjara manusia (the prisons of
man), terutama penjara natural-instingtualnya.
c. Bani
Adam
Al-Qur’an menyebutkan tentang Bani
Adam sebanyak 9 kali. Aspek Bani Adam lebh ditekakan pada kehidupan manusia
dari segi amaliah, juga sebagai upaya mengenal diri sendiri atau memahami
tingkatan kita dalam Al-Qur’an sekaligus pemberi arah ke mana dan
dalam bentuk apa aktivitas itu dilakukan.
Penjelasan dalam Al-Quran ada pada surat Al-Isra ayat 70
Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam,
Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang
baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas
kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan.
Menurut tafsir Quraish Shihab: Sungguh
Kami telah memuliakan anak-cucu Adam dengan bentuk tubuh yang bagus, kemampuan
barbicara dan kebebasan memilih. Mereka Kami berikan kemuliaan dan kekuatan,
jika mereka mematuhi Kami. Mereka
Kami angkut di daratan, melalui hewan, dan Kami angkut pula mereka di lautan,
melalui kapal-kapal. Mereka
juga Kami berikan rezeki berbagai kenikmatan. Sesungguhnya Kami benar-benar
telah melebihkan mereka dengan akal pikiran atas kebanyakan makhluk lain yang
Kami ciptakan.
Dalam dimensi ini manusia
disebutkan sebagai mahkluk yang memiliki tingkat intelektual. Dimensi ini
menjelaskan bahwa manusia memiliki curiosity
atau rasa ingin tahu di dalam diri personalnya terhadap suatu hal. Rasa ingin
tahu ini merupaan warisan yang sangat berharga dari nenek moyang kita yatu Nabi
Adam A.S. Karena dengan adanya curiosity
atau rasa ingin tahu tersebut maka manusia bisa menjadi mahkluk yang terus dan
selalu berkembang. Hal ini karena rasa ingin tahu merupakan impuls atau
rangsangan seseorang untuk menemukan pemecahan atau solusi dari suatu masalah
serta membuat seseorang dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu sesuatu.
d. An-Nas
Untuk manusia dengan sebutan
An-nas, 241 kali disebutkan di dalam 55 surah. Sebutan An-Nas
merupakan paling banyak diungkapkan, seakan memberikan pesan bahwa manusia dari
macam inilah yang banyak ditemukan.Dalam al-Qur’an keterangan yang
jelas menunjukkan pada jenis keturunan nabi Adam as. Kata an-Nas menunjuk manusia sebagai makhluk social dan
kebanyakan digambarkan sebagai kelompok manusia tertentu yang sering melakukan
mafsadah (kerusakan).
Penjelasan dalam Al-Quran ada pada surat An-Nas ayat 1
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّ
Katakanlah: "Aku berlindung kepada Tuhan (yang
memelihara dan menguasai) manusia.
Dalam surat ini, Allah
memerintahkan Nabi Muhammad saw. untuk kembali dan berlindung kepada-Nya dalam
mencegah kejahatan yang besar, yang tidak terlihat oleh kebanyakan manusia.
Sebab, kejahatan tersebut datang kepada mereka dari hawa nafsunya sehingga
mereka terjerumus dalam apa yang dilarang. Itulah kejahatan bisikan setan yang
tersembunyi dari penglihatan mata, atau yang terlihat dan tersembunyi dalam
tipu muslihat. Katakanlah,
aku berlindung kepada Tuhan manusia, dan pengatur segala urusannya. (Tafsir
Quraish Shihab)
Berarti dalam surat ini dijelaskan,
bahwa manusia memiliki nafsu yang baik dan jahat. Maksud nafsu yang baik adalah
nafsu yang dilakukan untuk beribadah, nafsu yang dilakukan di jalan Allah. Sedangkan nafsu yang
jahat atau buruk adalah nafsu yang merujuk pada jalan maksiat, jalan keburukan. Manusia
sebagai An-Nas merupakan dimensi antropologi yang artinya manusia tidak bisa
terlepas dari hubungan diantara manusia yang lain atau dalam kata lain manusia
adalah mahkluk sosial dan bermasyarakat. Manusia selalu diberikan pedoman dalam
berperan sebagai mahkluk yang bersosial atau berhubungan dengan sesama manusia
lainnya dengan saling bantu-membantu atau tolong-menolong dalam kebajikkan dan
saling mengasihi terhadap sesama manusia. Manusia juga ditegaskan untuk tidak
saling menyakiti satu sama lainnya guna menciptakan tali silaturahmi yang
harmonis.
e.
‘Abdun
/ Hamba
Manusia sebagai mahluk yang berdimensional memiliki
peran dan kedudukan yang sangat mulia. Kedudukan manusia yang paling utama
adalah sebagai Abdullah yang artinya sebagai Hamba Allah. Oleh karena itu,
sebagai hamba Allah maka manusia harus menuruti kemauan Allah, yang tidak boleh
membangkan kepada-Nya. Dalam hal ini, manusia mempunyai dua tugas yaitu:
pertama ia harus beribadah kepada Allah baik dalam pengertian sempit (sholat,
puasa, haji, dsb.) maupun luas (melaksanakan semua aktifitas baik dalam hubungan
dengan secara vertikal kepada Allah SWT maupun bermuamalah dengan sesama
manusia untuk memperoleh keridoan Allah sesuai dengan ketentuan-ketentuan Allah
SWT dan Hadist).
a)
Manusia sebagai Makhluk
Keberadaan manusia di alam
semesta ini bukan karena sendirinya, akan tetapi karena rancangan, disain,
proses penciptaan dari Allah swt. Keberadaan manusia sebagai hasil ciptaan
Allah swt, menyadarkan akan hakekat makhluk yang lemah, bodoh, dan fakir.
b)
Makhluk termulia (Al-Israa’:70)
Dan sesungguhnya telah Kami
muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan, Kami beri
mereka rezki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang
sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami ciptakan. (QS. 17:70)
c)
Makhluk yang paling indah bentuk
kejadiannya.
Sesungguhnya Kami telah
menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS. 95:4).
d)
Makhluk yang diberikan kebebasan
memilih dan bisa membedakan antara yang baik dan yang buruk.
“…dan jiwa serta penyempurnaannya
(ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan
ketaqwaan, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan
sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. 91:7-10)
e)
Makhluk yang diberi kemampuan
untuk mendapatkan ilmu pengetahuan dan dibekali dengan alat-alat yang
mendukungnya dalam meraih iptek itu:
“Bacalah dengan (menyebut) nama
Rabbmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dengan segumpal
darah. Bacalah, dan Rabbmulah Yang Paling Pemurah,” (QS. 96:1-3).
f)
Fitrah
Dari segi bahasa, kata fitrah
terambil dari akar kata al-fathr yang berarti belahan, dan dari makna ini lahir
makna-makna lain, seperti “penciptaan” dan “kejadian”. Dalam al-Qur’an kata ini
dalam berbagai bentuknya terulang sebanyak 28 kali, 14 kali diantaranya dalam
konteks uraian tentang bumi dan atau langit. Sisanya dalam konteks penciptaan
manusia baik dari sisi pengakuan bahwa penciptanya adalah Allah, maupun dari
segi uraian tentang fitrah manusia. Yang terakhir ini ditemukan sekali yaitu
pada QS ar-Rum: 30.
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan
lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan
manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah)
agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui,” ( Ar-Rum:30)
Merujuk kepada fitrah yang
dikemukukan di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa manusia sejak asal
kejadianya, membawa potensi beragama secara lurus, dan dipahami oleh para ulama
sebagai tauhid. Kalau kita memahami kata la pada ayat tersebut dalam arti
“tidak”, maka ini berarti bahwa seseorang tidak dapat menghindari fitrah itu.
Dalam konteks ayat ini, ia berarti bahwa fitrah keagamaan akan melekat pada
diri manusia untuk selama-lamanya, walaupun boleh jadi tidak diakui atau
diabaikanya.
2. Keistimewaan
Manusia
Manusia dalam kedudukan di alam ini
berada pada tingkatan yang paling atas daripada makhluk Allah lainnya. Karena, manusia
memiliki akal dan nafsu dalam dalam dirinya. Sedangkan makhluk Allah
lainnya hanya memiliki satu saja sifat, contohnya seperti malaikat yang hanya
memiliki nafsu saja, nafsu yang baik untuk beribadah. Pada saat penciptaan nabi
Adam a.s. para malaikat disuruh untuk menyebutkan benda-benda yang ada di depan
mereka, tetapi mereka tidak tahu apa nama-nama benda yang ada di depan mereka.
Dan kemudian Allah menyuruh nabi Adam untuk menyebutkan apa-apa benda yang ada
di depannya, dan kemudian nabi Adam menyebutkannya tanpa kesusahan
(Al-Baqarah:31-33).
sebagai berikut:
a. Manusia
sebagai ciptaan yang tertinggi dan terbaik.
Dalilnya surat At-Tin ayat 4
لَقَدْ
خَلَقْنَا الْإِنْسَانَ فِي أَحْسَنِ تَقْوِيمٍ
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam
bentuk yang sebaik-baiknya.”
Dalam ayat ini jelas, bahwa manusia diciptakan dalam
bentuk yang paling baik. Maka, jika ada orang yang merubah-merubah bentuk
dirinya maka dia akan dimurkai oleh Allah. Sebagai contoh, manusia adalah
makhluk yang tidak pernah puas utamanya wanita dalam kecantikannya.Maka, banyak
sekarang ini mereka merubah dirinya, wajahnya, melalui operasi plastik ntuk
membuatnya lebih cantik.Ini adalah glongan yang dimurkai oleh Allah yaitu
merubah bentuk dirinya padahal Allah sendiri sudah mengatakan dia membuat
manusia dalam bentuk yang paling baik.
b.
Manusia diistimewakan dan dimuliakan
oleh Allah
Dalilnya surat Al-Isra ayat 70
“Dan
sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan
dan di lautan, Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan
mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami
ciptakan.“
Penekanan dari ayat diatas adalah “Kami lebihkan
mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah Kami
ciptakan” makna tersebut berarti manusia dimuliakan oleh Allah dan
diistimewakan juga.
c.
Mendapatkan tugas mengabdi
Dalilnya surat Az-Zariyat ayat 56
“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi
kepada-Ku.”
Pengertian dalam ayat ini sama
sekali tidak bertentangan dengan kenyataan, bahwa orang-orang kafir tidak
menyembah-Nya. Karena sesungguhnya tujuan dari ayat ini tidaklah memastikan
keberadaannya. Perihalnya sama saja dengan pengertian yang terdapat di dalam
perkataanmu, "Aku runcingkan pena ini supaya aku dapat menulis
dengannya." Dan kenyataannya terkadang manusia sendiri tidak
menggunakannya.
d.
Mempunyai peranan sebagai khalifah
Dalilnya surat Al-An’am ayat 165
“Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di
bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa
derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya
Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.”
Allahlah yang menjadikan manusia
sebagai pengganti umat-umat yang lalu dalam mengembangkan alam. Dia meninggikan
derajat kesempurnaan materi dan maknawi sebagian kalian di atas yang lain,
karena menempuh sebab-sebabnya? Itu semua agar Dia menguji manusia atas nikmat
yang telah dikaruniakan-Nya, apakah mereka bersyukur atau tidak.Juga atas
hukum-hukum syariat, apakah mereka laksanakan atau tidak.Allah Mahacepat
hukumannya terhadap orang-orang yang melanggar. Sebab, hukuman-Nya pasti akan
datang. Segala yang akan datang adalah dekat. Sesungguhnya ampunan-Nya terhadap
pelanggaran yang dilakukan oleh orang-orang yang bertobat dan berbuat baik
sangat besar.Kasih sayang-Nya kepada mereka amat luas.
e. Untuk
melaksanakan tugas dan peranannya guna mencapai tujuan hidupnya manusia diberi
peraturan hidup
Dalilnya surat An-Nisa ayat 105
“Sesungguhnya
Kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu
mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu, dan
janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), karena (membela)
orang-orang yang khianat, “
Allah telah menurunkan al-Qur'ân kepadamu,
Muhammad, dengan benar: mengandung dan menjelaskan segala kebenaran sampai hari
kiamat. Al-Quran menjadi pedoman dalam memutuskan hukum di antara
manusia.Tentukanlah hukum berdasarkandengan berpedoman pada al-Qur'ân-dan
jangan membela orang-orang yang berkhianat.
D.
Tanggung Jawab Manusia
Islam bukan hanya memuliakan,
mengunggulkan, dan mengistimewakan manusia atas makhluk lainnya, sejalan dengan ini Islam
pun memberikan tanggung jawab yang disertai balasan sepadan[8].Islam
membebani manusia dengan tanggung jawab penerapan syariat Allah dan perwujudan
penghambaan kepada-Nya.Padahal, makhluk-makhluk lain tidak bersedia memikul
tanggung jawab tersebut.Allah swt.berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah
mengemukakan amanat kepada langit, bumi dan gunung-gunung, Maka semuanya enggan
untuk memikul amanat itu dan mereka khawatir akan mengkhianatinya, dan
dipikullah amanat itu oleh manusia.Sesungguhnya manusia itu amat zalim dan amat bodoh, sehingga
Allah mengazab orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang
musyrikin laki-laki dan perempuan; dan sehingga Allah menerima taubat
orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan.dan adalah Allah Maha Pengampun lagi
Maha Penyayang.” (al-Ahzab: 72-73)
Sejalan dengan kebebasan, kehendak,
dan kemampuan untuk membedakan kebaikan dan keburukan, Allah telah menentukan
balasan atau balasan yang setimpal dengan alternatif yang dipilih manusia,
apakah yang dipilihnya itu kebaikan ataukah keburukan? Untuk itu Al-Qur’an
mengatakan:“Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat zarah pun, niscaya
dia akan melihat [balasan]nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan
seberat zarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan) nya pula.” (Al-Zalzalah: 7-8)
Atas pendengaran, penglihatan, hati
dan seluruh anggota tubuh yang diberikan Allah, manusia bertanggung jawab untuk
memanfaatkan semuanya dalam jalan kebaikan sebagaimana firman Allah
berikut:“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan
tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya itu akan
dimintai pertanggung jawabannya.” (Al-Isra’:36)
Rasa tanggung jawab itu akan
terpelihara di dalam diri manusia yang sadar, selalu ingat, adil, jauh dari
penyelewengan, tidak tunduk pada hawa nafsu, jauh dari kedhaliman dan kesesatan
serta istiqamah dalam segala perilaku[9].
Rasulullah pun mengatakan bahwa manusia itu bertanggung jawab atas harta, umur
dan kemudaannya lewat sabdanya ini:
“Tidaklah beranjak kaki seorang
hamba pada hari kiamat sebelum dimintai pertanggungjawaban empat hal ini:
tentang usia, dihabiskan untuk apa usia itu; tentang ilmu pengetahuan diamalkan
untuk apa ilmunya itu; tentang harta, diperoleh dari mana dan dibelanjakan
untuk apa hartanya itu; dan tentang tubuhnya, dilusuhkan untuk apa tubuhnya
itu.” (HR Tirmidzi dari Abu Hurairah).
Manusia di dalam hidupnya disamping
sebagai makhluk Tuhan, makhluk individu, juga merupakan makhluk sosial.Di mana
dalam kehidupannya di bebani tanggung jawab, mempunyai hak dan kewajiiban,
dituntut pengabdian dan pengorbanan.
Tanggung jawab itu sendiri
merupakan sifat yang mendasar dalam diri manusia.Selaras dengan fitrah.Tapi
bisa juga tergeser oleh faktor eksternal.Setiap individu memiliki sifat ini.Ia
akan semakin membaik bila kepribadian orang tersebut semakin meningkat. Ia akan
selalu ada dalam diri manusia karena pada dasarnya setiap insan tidak bisa
melepaskan diri dari kehidupan sekitar yang menunutut kepedulian dan tanggung
jawab.
Inilah yang menyebabkan frekuensi
tanggung jawab masing-masing individu berbeda, Tanggung jawab mempunyai kaitan
yang sangat erat dengan perasaan. Tanggung jawab juga berarti berbuat sebagai
perwujudan kesadaran akan kewajibannya. Macam-macam tanggung jawab:
1.
Tanggung jawab terhadap
dirinya sendiri
Manusia dalam hidupnya mempunyai
“harga”, sebagai mana kehidupan manusia mempunyai beban dan tanggung jawab
masing-masing.
Salah satu contohnya apabila seorang
anak yang telah dibiayai untuk bersekolah oleh orang tuanya, maka anak tersebut
bertanggung jawab untuk menjadi seseorang yang berprestasi.
2. Tanggung
jawab terhadap keluarga
Keluarga terdiri dari ayah, ibu,
dan anak, dan juga orang lain yang menjadi anggota keluarga. Tiap anggota
keluarga wajib bertanggung jawab kepada keluarganya.
Contoh dalam pelaksanaan tanggung
jawab terhadap keluarga yaitu seorang suami/ayah yang memiliki kewajiban untuk
menafkahi keluarganya dan juga seorang ibu yang memiliki kewajiban dalam
mengurus keluarganya.
3. Tanggung
jawab terhadap masyarakat
Pada hakikatnya manusia tidak dapat
hidup tanpa bantuan orang lain, sesuai dengan kedudukanya sebagai makhluk
sosial. Karena membutuhkan manusia lain, maka ia harus berkomunikasi dengan
manusia lain tersebut. Sehingga dengan demikian manusia di sini merupakan
anggota masyarakat yang tentunya mempunyai tanggung jawab seperti anggota
masyarakat yang lain agar dapat melangsungkan hidupnya dalam masyarakat
tersebut
Contohnya yaitu dalam kegiatan
gotong royong dalam kegiatan bersih-bersih, dimana setiap warga memiliki
tanggung jawab untuk ikut serta dalam menjaga lingkungan sekitarnya.
4. Tanggung
jawab terhadap Bangsa / Negara
Suatu kenyataan bahwa setiap
manusia, setiap individu adalah warga negara suatu negara. Dalam berfikir,
berbuat, bertindak, bertingkah laku manusia terikat oleh norma-norma atau
ukuran-ukuran yang dibuat oleh negara.Manusia tidak bisa berbuat semaunya
sendiri. Bila perbuatan manusia itu salah, maka ia harus bertanggung jawab kan
kepada negara.
Contoh nya yaitu apabila seorang
warga negara tetap mematuhi aturan yang berlaku di suatu negara dan juga
menjaga rasa nasionalisme demi terjaganya keutuhan suatu bangsa dan negara.
5. Tanggung
jawab terhadap Tuhan
Manusia mempunyai tanggung jawab
langsung kepada Tuhan. Sehingga tindakan manusia tidak bisa lepas dari
hukum-hukum Tuhan yang dituangkan dalam berbagai kitab suci melalui berbagai
macam agama.
Contohnya dalam kehidupan
sehari-hari yaitu seorang muslim yang melaksanakan salat dan juga melakukan
setiap rukun-rukun islam yang bersumber dari al-qur’an.
E.
Kedudukan
Harkat dan Martabat Manusia
Harkat dan martabat
merupakan dua istilah yang tidak terlepas dari manusia sebagai makhluk ciptaan
Tuhan yang paling sempurna dibandingkan makhluk lainnya.Meskipun memiliki arti
perbeda, namun kedua istilah tersebut saling berkaitan erat.Pengertian harkat
manusia adalah derajat kemuliaan manusia sedangkan pengertian martabat manusia
adalah harga diri manusianya.
Manusia juga
memiliki jiwa dan raga dimana jiwa atau roh manusia memiliki derajat (harkat)
yang lebih tinggi karena berhubungan langsung dengan pencipta-Nya dan memiliki
kemampuan-kemampuan yang disebut cipta, rasa dan karsa.Sedangkan raga manusia
merupakan derajat paling rendah di mata Tuhan karena berhubungan dengan kondisi
dan tingkah laku manusia yang terkadang manusia mengingkari hakekat dasar
harkat dan martabat manusia lainnya[10].
Harkat dan
Martabat Manusia pada dasarnya dimiliki oleh setiap manusia untuk menjalani
kehidupan bermasyarakat karena sudah merupakan kodrat manusia sebagai
makhluk pribadi sekaligus makhluk sosial ciptaan Tuhan. Untuk itu setiap
orang wajib dan berhak menjaga harkat dan martabatnya.
Contoh penerapan
harkat dan martabat manusia yang paling umum adalah dalam pendidikan.
Berdasarkan Harkat dan Martabat Manusia (HMM) dilakukan proses pembelajaran
yang merupakan interaksi antara manusia dengan manusia (pendidik dan peserta
didik) berdasarkan tujuan pendidikan yang ingin dicapai. Pendidikan merupakan
wahana bagi pengembangan dan media bagi pemuliaan manusia yang merupakan:
1.
Makhluk
yang terindah dalam bentuk dan pencitraannya;
2.
Makhluk
yang tertinggi derajatnya;
3.
Makhluk
yang beriman dan bertaqwa kepada Tuahn Yang Maha Kuasa;
4.
Khalifah
dimuka bumi;
5.
Pemilik
Hak-hak Asasi Manusia (HAM).
BAB
3
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Manusia dalam
agama islam diartikan sebagai makhluk Allah SWT yang memiliki unsur dan jiwa
yang arif, bijaksana, berakal, bernafsu, dan bertanggung jawab pada Allah SWT.
Manusia memiliki jiwa yang bersifat rohaniah, gaib, tidak dapat ditangkap
dengan panca indera yang berbeda dengan makhluk lain karena pada manusia
terdapat daya berfikir, akal, nafsu, kalbu, dan sebagainya.
Hakikat manusia
dalam pandangan islam yaitu sebagai khalifah di bumi ini. Yang mampu merubah
bumi ini kearah yang lebih baik.Hal yang menjadikan manusia sebagai khalifah
adalah karena manusia memiliki kelebihan yang tidak dimiliki makhluk lainnya,
seperti akal dan perasaan.Selain itu manusia diciptakan Allah dalam bentuk yang
paling baik, ciptaan Allah yang paling sempurna.
Sebagai makhluk
yang dibekali dengan berbagai kelebihan jika dibandingkan dengan makhluk lain,
sudah sepatutnya manusia mensyukuri anugrah tersebut dengan berbagai cara,
diantaranya dengan memaksimalkan semua potensi yang ada pada diri kita. Kita
juga dituntut untuk terus mengembangkan potensi tersebut dalam rangka
mewujudkan tugas dan tanggung jawab manusia sebagai makhluk dan khalifah di
bumi.
Fungsi utama
manusia adalah sebagai khalifah di muka bumi ini dan perannya sebagai khalifah
sebagaimana yang ditetapkan Allah SWT mencakup tiga poin yaitu belajar,
mengajarkan ilmu, dan membudayakan ilmu.Tenggung jawab manusia sebagai khalifah
yang berarti wakil Allah adalah mewujudkan kemakmuran di muka bumi, mengelola
dan memelihara bumi.
Sebenarnya Al
Quran sudah membahas semua hal mengenai fungsi, peran dan tanggung jawab
manusia. Oleh karena itu manusia wajib membaca dan memahami Al Quran agar dapat
memahami apa fungsi, peran dan tanggung jawabnya sebagai manusia, sehingga
dapat menjalani kehidupan dengan penuh makna.
B.
Saran
Setelah
mengetahui asal usul dan bagaimana proses manusia itu diciptakan, hendaknya
setiap manusia bisa sadar akan tujuan hidupnya yaitu untuk mencari keridhaan
Allah SWT, karena jiwa yang memperoleh keridhaan Allah adalah jiwa yang
berbahagia, mendapat ketenangan, serta akan memperoleh imbalan surga.
Selama hidup di
dunia manusia wajib beribadah, menghambakan diri kepada Allah.Seluruh aktivitas
hidupnya harus diarahkan untuk beribadah kepada Allah SWT sebagai pencipta
semua makhluk.Semoga dapat menjadi pembelajaran bagi kita semua sehingga kita
menjadi manusia yang senantiasa beriman dan bertaqwa kepada Allah SWT.
Dengan
terselesaikannya makalah ini semoga bermanfaat bagi semuanya dan pembaca
khususnya.Penyusun menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak
kekurangan yang harus dibenahi.Untuk itu masukan-masukan dari pihak-pihak yang
merespon makalah ini sangat ditunggu.
[1]Asal Mula Manusia
(menurut teori Evolusi). Diakses pada 16 April
2017 dari http://www.kholistembesi.my.id/2015/12/asal-mula-manusia-menurut-teori-evolusi.html
[2]Asal Mula Manusia
(menurut teori Evolusi). Diakses pada 16 April
2017 dari http://www.kholistembesi.my.id/2015/12/asal-mula-manusia-menurut-teori-evolusi.html
[3]Proses Penciptaan
Manusia Menurut Islam. Diakses pada 16 April
2017 dari https://updateberitamu.wordpress.com/2014/10/10/makalah-proses-penciptaan-manusia-menurut-islam/
[4]Proses Penciptaan
Manusia Menurut Islam. Diakses pada 16 April
2017 dari https://updateberitamu.wordpress.com/2014/10/10/makalah-proses-penciptaan-manusia-menurut-islam/
[5]Visi dan Misi Hidup Muslim. Diakses pada 16 April
2017 darihttp://harian.analisadaily.com/mobile/mimbar-islam/news/visi-dan-misi-hidup-muslim/87375/2014/12/05
[6]Visi dan Misi Hidup Muslim. Diakses pada 16 April
2017 dari http://harian.analisadaily.com/mobile/mimbar-islam/news/visi-dan-misi-hidup-muslim/87375/2014/12/05
[7]4 Tingkatan Nama
Manusia Yang Dijelaskan Dalam Al Quran.
Diakses pada 16 April 2017 dari http://www.asadenanyar.com/2016/05/nama-nama-manusia-dalam-alquran.html
[8]Manusia Menurut
Pandangan Islam. Diakses pada 16 April 2017 dari https://alquranmulia.wordpress.com/2014/01/03/manusia-menurut-pandangan-islam/
[9]Manusia Menurut
Pandangan Islam. Diakses pada 16 April 2017 dari https://alquranmulia.wordpress.com/2014/01/03/manusia-menurut-pandangan-islam/
[10]Harkat dan Martabat
Manusia. Diakses pada 16 April 2017 dari http://www.kanalinfo.web.id/2016/08/harkat-dan-martabat-manusia.html
Komentar
Posting Komentar