KONSEP MODAL KERJA
BAB
I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Bagi
suatu perusahaan, modal kerja adalah suatu yang penting. Modal kerja sendiri
adalah kas yang harus ada dalam suatu perusahaan dan tidak boleh habis. Bisa
dibilang modal kerja adalah biaya operasi yang harus ada dan digunakan
sehari-hari sebagai pendanaan atas aktivitas perusahaan. Setiap
perusahaan selalu memerlukan modal kerja yang akan digunakan untuk membiayai
aktifitas perusahaan sehari-hari misalnya, untuk membeli bahan baku, membayar
upah buruh, membayar utang dan lain-lain. Kekurangan uang tunai (kas)
akan menyebabkan perusahaan tidak mampu membayar kewajiban dalam jangka pendek
sedangkan kekurangan persediaan akan menyebabkan perusahaan tidak dapat
memperoleh keuntungan karena calon pembeli tidak jadi membeli pada perusahaan.
Perusahaan yang membiayai kebutuhan modal kerja dengan pinjaman, jika tidak
dilakukan dengan perencanaan yang matang selain akan mengurangi laba yang
seharusnya diperoleh, juga akan memberikan beban berat pada perusahaan di waktu
yang akan datang.
Pengelolaan
modal kerja merupakan tanggung jawab setiap manajer atau pimpinan perusahaan.
Manajer harus mengadakan pengawasan terhadap modal kerja agar sumber-sumber
modal kerja dapat digunakan secara efektif di masa mendatang. Manajer juga
perlu mengetahui tingkat perputaran modal kerja agar dapat menyusun rencana
yang lebih baik untuk periode yang akan datang. Selain manajer, kreditor jangka
pendek juga perlu mengetahui tingkat perputaran modal kerja suatu perusahaan.
Dengan begitu, kreditor jangka pendek akan memperoleh kepastian kapan hutang
perusahaan akan segera dibayar.
Manajemen
modal kerja menjadi penting karena aktiva lancar dari perusahaan manufaktur
jumlahnya lebih dan setengah dari jumlah total aktiva. Untuk perusahan
distribusi, jumlahnya lebih besar lagi. Untuk menjalankan perusahaan
secara lebih efisien, piutang dan persediaan harus dimonitor dan dikendalikan
secara seksama. Hal ini penting untuk perusahaan yang berkembang
cepat, karena investasi pada kedua aktiva ini cepat sekali berubah dan
sulit dikendalikan. Kelebihan jumlah aktiva lancar bisa berakibat pada
realisasi pengembalian investasi di bawah standar yang telah ditentukan.
Namun, perusahaan dengan aktiva lancar yang terlalu sedikit dapat menimbulkan
kekurangan dan kesulitan dalam kelancaran operasi.
Untuk
perusahaan kecil, hutang jangka pendek merupakan sumber utama bagi pembiayaan
eksternal. Perusahaan ini tidal memiliki akses bagi pasar modal untuk
jangka yang lebih panjang, selain memperoleh jaminan hipotik dari
bangunan. Perusahaan yang tumbuh dengan cepat tetapi lebih besar juga
menggunakan hutang jangka pendek untuk pembiayaan. Untuk alasan ini, manajer
keuangan dan anggotanya memberikan porsi waktu yang sesuai dengan hal-hal yang
berkaitan dengan modal kerja. Manajemen kas, sekuritas, piutang, hutang,
beban dan pendapatan di muka dan hal-hal dari pembiayaan dari jangka pendek
merupakan tanggungjawab langsung dari manajer keuangan, hanya persediaan yang
dikecualikan. Lagi pula tanggungjawab manajemen ini membutuhkan
pengawasan dari hari ke hari secara terus-menerus. Tidak seperti
keputusan deviden dan struktur modal, hal ini dapat dipelajari, diputuskan dan
ditentukan untuk periode yang akan datang. Oleh karena itu, manajemen
modal kerja sangat penting, sehingga proporsi waktu dari seorang manajer
keuangan seharusnya dialokasikan untuk hal ini. Namun yang lebih penting
adalah dampak dari keputusan modal kerja pada tingkat resiko, laba dan harga
saham perusahaan.
B. Rumusan
masalah
1. Apa
yang dimaksud konsep modal kerja?
2. Bagaimana
tujuan manajemen modal kerja terkait likuiditas dan profitabilitas, dan hubungan
antara keduanya?
3. Apa
yang menjadi ukuran dan patokan dalam menetapkan tingkat optimal aktiva lancar
4. Apa
saja alternatif kebijakan modal dan strategi pendanaannya?
5. Bagaimana
konsep modal kerja nol?
6. Apa
itu Cash Conversion Cycle (Siklus
Konversi Kas) dan metode untuk mendapatkan nominal Cash Conversion Cycle (Siklus Konversi Kas)?
C.Tujuan
1. Untuk
mengetahui apa itu konsep modal kerja dan fungsinya bagi perusahaan.
2. Untuk
mengetahui tujuan manajemen modal kerja terkait likuiditas dan profitabilitas
dan mengetahui hubungan antara keduanya.
3. Untuk
mengetahui ukuran dan patokan yang menjadi acuan dalam menetapkan tingkat
optimal aktiva lancar dengan gambar kurva.
4. Untuk
mengetahui alternatif kebijakan modal dan strategi pendanannya.
5. Untuk
mengetahui konsep model kerja nol dan fungsinya bagi perusahaan.
6. Untuk
mengetahui Cash Conversion Cycle
(Siklus Konversi Kas) serta rumus cara mendapatkan nominal Cash Conversion Cycle (Siklus Konversi Kas).
D. Manfaat
1. Agar
mahasiswa mengetahui konsep modal kerja dan pentingnya modal kerja bagi
perusahaan.
2. Agar
mahasiswa mengerti pengaruh kinerja modal kerja terhadap likuiditas dan
profitabilitas suatu perusahaan.
3. Agar
mahasiswa dapat membaca kurva modal kerja melalui pendekatan konservatif dan
agresif.
4. Agar
mahasiswa mengerti alternatif kebijakan modal dan bagaimana solusi dan strategi
pendanaan yang tepat atas alternatif kebijakan modal kerja suatu perusahaan.
5. Agar
mahasiswa dapat menganalisis bagaimana kinerja model kerja nol bagi perusahaan
dan pengaruhnya bagi perusahaan.
6. Agar
mahasiswa mampu menghitung Cash Conversion
Cycle (Siklus Konversi Kas) dan dapat menganalisis suatu perusahaan melalui
nominal Cash Conversion Cycle (Siklus
Konversi Kas)
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Konsep
Modal Kerja
1.
Pengertian Modal Kerja
Modal kerja adalah aktiva yang digunakan dalam
operasi. Dalam akuntansi terdapat istilah untuk dana yang
diperlukan dalam operasional kantor
sehari-hari. Seperti misalnya uang
pembayaran gaji karyawan, pembayaran hutang, pembelian barang dan lainnya. Nah
dana ini lah yang disebut dengan modal kerja. Modal kerja ini terdiri dari dua
buah elemen dasar yaitu aktiva lancar (current asset) dan
kewajiban lancar (current liabilities). Kedua hal ini menentukan bagaimana
kegiatan operasional kantor karena itu diperlukan pengelolaan yang baik
menggunakan manajemen modal kerja.
Pengertian
modal kerja bisa diartikan kelebihan aktiva lancar pada hutang dengan waktu
jangka pendek, dan kelebihan tersebut bisa dikatakan modal kerja bersih,
sedangkan kelebihan tersebut merupakan jumlah dari aktiva lancar yang berasal
dari hutang dengan jangka waktu yang panjang.
Ada
definisi lain yang mengatakan bahwa modal kerja adalah sebuah investasi
peruhsaan dalam aktiva dengan waktu jangka pendek. Sedangkan menurut Wasis
(1991) modal kerja adalah sebuah dana yang ditanamkan dengan menggunakan aktiva
lancar, karena itu bisa dikatakan sebagai kas, piutang atau bahkan juga surat
surat berharga. Sedangkan didalam modal kerja ada juga istilah modal kerja
bruto yaitu keseluruhan dari aktvia yang ada pada sisi debet neraca. Sedangkan
untuk modal kerja neto adalah seluruh harta lancar akan dikurangi urang lancar.
Dengan kata lain bisa dikatakan bahwa modal kerja neto merupakan selisih antara
aktivia lancar yang dikurangi hutang lancar.
2.
Konsep Modal Kerja
Menurut Martono dan Harjito (2002 :
72-73), “ Untuk memudahkan dalam menetapkan elemen-elemen modal kerja, dikenal
3 konsep modal kerja, yaitu :
a.
Konsep
kuantitatif
Modal kerja menurut konsep
kuantitatif adalah jumlah keseluruhan aktiva lancar yang disebut juga modal
kerja bruto (gross working capital). Umumnya elemen-elemen dari
modal kerja kuantitatif meliputi kas, surat-surat berharga (sekuritas), piutang dan persediaan.
b.
Konsep
kualitatif
Pada konsep ini modal kerja
dihubungkan dengan besarnya hutang lancar atau hutang yang segera harus
dilunasi. Sebagian aktiva lancar dipergunakan untuk melunasi hutang lancar
seperti hutang dagang, hutang wesel, hutang pajak, dan sebagian lagi
benar-benar dipergunakan untuk membelanjai kegiatan operasi perusahaan. Dengan
demikian modal kerja menurut konsep kualitatif merupakan kelebihan aktiva
lancar di atas hutang lancar yang juga disebut modal kerja neto (net working capital).
c.
Konsep
fungsional
Konsep fungsional mendasarkan pada
fungsi dana yang digunakan untuk memperoleh pendapatan. Setiap dana yang
dialokasikan pada berbagai aktiva dimaksudkan untuk memperoleh pendapatan (income), baik pendapatan saat ini (current income) maupun pendapatan
masa yang akan datang (future income).
Konsep modal kerja fungsional merupakan konsep mengenai modal yang digunakan
untuk menghasilkan current income.”
B.
Tujuan Manajemen Modal Kerja Terkait
Likuiditas dan Profitabilitas, dan Hubungan Antara Keduanya
1. Tujuan Manajemen Modal Kerja
Menurut Muslich (2000:143), “Manajemen modal kerja merupakan
manajemen aktiva lancar dan pasiva lancar. Manajemen modal kerja memiliki
beberapa arti penting bagi perusahaan. Pertama, modal kerja menunjukkan ukuran
besarnya investasi yang dilakukan perusahaan dalam aktiva lancar dan klaim atas
perusahaan yang diwakili oleh utang lancar. Keduanya, investasi dalam aktiva
likuid, piutang dan persediaan barang adalah sensitif terhadap tingkat produksi
dan penjualan”.
Menurut Syamsuddin (2000:201), “ Tujuan dari manajemen modal
kerja adalah untuk mengelola masing-masing pos aktiva lancar dan hutang lancar
sedemikian rupa, sehingga jumlah net
working capital (aktiva lancar dikurangi dengan hutang lancar) yang
diinginkan tetap dapat dipertahankan.”
Berdasarkan kutipan-kutipan diatas maka dapat diketahui
bahwa modal kerja adalah dana yang dipergunakan untuk biaya operasi perusahaan
yang berupa kas, piutang, surat berharga yang mudah diuangkan dan persediaan.
Menurut Sawir (2005:135), ”Adapun sasaran yang ingin dicapai
dari manajemen modal kerja adalah :
a.
Memaksimalkan
nilai perusahaan dengan mengelola aktiva lancar sehingga tingkat pengembalian
investasi marjinal adalah sama atau lebih besar dari biaya modal yang digunakan
untuk membiayai aktiva – aktiva tersebut.
b.
Meminimalkan
dalam jangka panjang biaya modal digunakan untuk membiayai aktiva lancar.
c.
Pengawasan
terhadap arus dana dalam aktiva lancar dan ketersediaan dana dari sumber utang,
sehingga perusahaan selalu dapat memenuhi kewajiban keuangannya ketika jatuh
tempo”.
Menurut Martono dan Harjito (2002:74),
“Ada beberapa alasan yang mendasari pentingnya manajemen modal kerja yaitu :
a.
Aktiva
lancar dari perusahaan baik perusahaan manufaktur maupun perusahaan jasa
memiliki jumlah yang cukup besar dibanding dengan jumlah aktiva secara
keseluruhan.
b. Untuk perusahaan kecil, hutang
jangka pendek merupakan sumber utama bagi pendanaan eksternal.
c. Manajer keuangan dan anggotanya
perlu memberikan porsi waktu yang sesuai untuk pengelolaan tentang hal-hal yang
berkaitan dengan modal kerja.
d. Keputusan modal kerja berdampak
langsung terhadap tingkat risiko, laba, dan harga saham perusahaan.
e.
Adanya
hubungan langsung antara pertumbuhan penjualan dengan kebutuhan dana untuk
membelanjai aktiva lancar.”
Berdasarkan kutipan-kutipan di atas maka diketahui bahwa
manajemen modal kerja dapat mengelola masing-masing pos aktiva lancar dan
hutang lancar, untuk tujuan tertentu demi efisiensi dan efektivitas perusahaan.
2.
Hubungan Modal Kerja dengan Likuiditas Perusahaan
Suatu perusahaan yang ingin
mempertahankan kelangsungan kegiatan usahanya harus memiliki kemampuan untuk
melunasi kewajiban-kewajiban finansial yang segera dilunasi. Dengan demikian
likuiditas merupakan indikator kemampuan perusahaan untuk membayar atau
melunasi kewajiban-kewajiban finansialnya pada saat jatuh tempo dengan
mempergunakan aktiva lancar yang tersedia.
Menurut Tangkilisan (2003:244),
“Sebuah perusahaan menunjukkan likuiditas tinggi ketika saldo aktiva lancarnya
adalah besar dalam hubungannya dengan saldo hutang lancarnya, dan perusahaan
ini memiliki proporsi tinggi aktiva lancar dalam kas, surat-surat berharga, dan
piutang, sebagai lawan terhadap persediaan atau biaya yang dibayar di muka.”
Meskipun semua aktiva dalam
perusahaan mempunyai tingkat likuiditas, tetapi yang menjadi pusat perhatian
adalah pada aktiva yang paling likuid, yaitu kas. Dengan demikian maka
manajemen likuiditas menyangkut penentuan jumlah kedua jenis aktiva tersebut
yang akan dimiliki perusahaan.
Pada
setiap perusahaan modal kerja mempunyai hubungan yang saling terkait
dengan likuiditas, karena dengan adanya modal kerja maka perusahaan dapat
memenuhi kewajiban-kewajiban jangka pendeknya dimana modal kerja ini digunakan
untuk menjalankan operasi-operasi perusahaan setiap harinya. Sedangkan
likuiditas menunjukkan kemampuan dari perusahaan dalam memenuhi kewajiban yang
harus segera dipenuhi.
Menurut Keown yang dikutip oleh
Djakman (2000:644), “Agar dalam pelaksanaan kegiatan perusahaan berhasil
diperlukan sejumlah modal kerja yang cukup, dimana pengelolaan modal kerja
tersebut dapat menunjukkan keseimbangan antara likuiditas dan profitabilitas
perusahaan”.Besarnya modal kerja sebuah perusahaan berhubungan dengan berbagai
aktivitas operasional dan finansial tanpa modal kerja yang cukup aktivitas
bisnis perusahaan dapat terancam.
Menurut Riyanto (2001:25), “Masalah
likuiditas adalah berhubungan dengan masalah kemampuan suatu perusahaan untuk
memenuhi kewajiban finansialnya yang segera harus dipenuhi.” Selanjutnya
Riyanto (2001:26) menyatakan, “Likuiditas badan usaha dapat diketahui dari
neraca pada suatu saat antara lain dengan membandingkan jumlah aktiva lancar di
satu pihak dengan utang lancar di lain pihak, hasil perbandingan tersebut ialah
apa yang disebut “current ratio”
atau “Working Capital ratio”. Current ratio ini merupakan ukuran
yang berharga untuk mengukur kesanggupan perusahaan untuk memenuhi current obligation–nya.”
Setiap aktiva memiliki tingkat
likuiditas yang berbeda-beda dan agar dapat diuangkan tanpa menderita kerugian
maka tingkat kecepatan aktiva dapat digambarkan melalui tingkat likuiditasnya. Seperti
diketahui bahwa likuiditas perusahaan menjadi salah satu nilai penting untuk
memenuhi sejumlah dana yang diperlukan pada saat dibutuhkan. Aktivitas suatu
usaha perusahaan dapat dipengaruhi oleh ketidakmampuan perusahaan dalam
memenuhi likuiditasnya. Sementara itu, salah satu hal yang merupakan bagian
penting adalah kebutuhan dana dalam manajemen modal kerja, baik dalam hal
penggunaan dana maupun penyediaan dana yang berkaitan dengan aktivitas usaha.
3. Hubungan Modal Kerja dengan
Profitabilitas
Profitabilitas adalah kemampuan perusahaan memperoleh laba
dalam hubungannya dengan pejualan, total aktiva, maupun modal sendiri (Sartono
: 1998). Besarnya laba digunakan untu menilai kinerja perusahaan. Perusahaan
dapat memaksimalkan labanya apabila manajer keuangan mengetahui fakto-faktor
yang memiliki pengaruh besar terhadap profitabiltas perusahaan. Menurut Munawir
(2007) menyatakan bahwa selain dari
efisiensi pngelolaan modal kerja, profitabilitas perusahaan juga dipengaruhi
oleh faktor-faktor lain seperti jenis, skala, umur perusahaan, struktur modal,
dan produk yang dihasilkan.
Kemampuan perusahaa untuk menghasilkan laba selama satu
periode tertentu dapat diukur dengan melihat kesuksesan da kemampuan perusahaan
dalam mennggunakan aktivanya secara produktif. Modal kerja dibutuhkan oleh
setiap perusahaan untuk membelanjai operasinya seharihari, misalnya : untuk
persekot pembelian bahan mentah, membiayai upah gaji pegawai, dan lain-lain:
dimana uang atau dana yang dikeluarkan diharapkan kembali lagi masuk dalam
perusahaan dalam watu singkat melalui hasil penjualan produksinya. Karena
modalkerja sebagai salah satu komponen terpenting dari aktiva yang harus
dikelola dan dimanfaatkan secara efektif dan produktif, sehingga mampu
meningkatkan profitabilitas perusahaan. Pengelolaan modal kerja merupakan
tanggung jawab setiap manajer atau pimpinan perusahaan. Manajer harus
mengadakan pengawasan terhadap modal kerja agar sumber-sumber modal kerja dapat
digunakan secara efektif dimasa mendatang. Manajer juga perlu mengetahui
tingkat perputaran modal kerja agar dapat menyusun rencana yang lebih baik
untuk periode yang akan datang.
C. Menetapkan
Tingkat Optimal Aktiva Lancar
1. Kategori
Aktiva Lancar
Aktiva lancar dapat dibagi menjadi dua
kategori :
a. Aktiva
lancar permanen : aktiva lancar yang tetap harus dimiliki oelh sebuah
perusahaan meskipun sedeang berada dibagian terendah siklus bisnisnya.
b. Aktiva
lancar sementara : aktiva lancar yang mengalami fluktuasi seiring dengan variasi-variasi musiman atau
siklus yang terjadi di penjualan.
Alternatif-alternatif pemenuhan
kebutuhan dalam kaitannya dengan aktiva lancar :
1) Pendekatan
konservatif
Pada gambar kurva, menunjukan garis
putus-putus ditas garis yang menunjukan aktiva lancar permanen, yang menunjukan
bahwa modal jagka panjang digunakan untuk mendanai seluruh aktiva lancar
permanen dan juga untuk memenuhi beberapa kebutuhan pendanaan musiman. Dalam
situasi ini, perusahaan mengguanakan kredit jangka pendek non-spontan dalam
jumlah kecil untuk memenuhi kebutuhan puncaknya, namun disamping itu perusahaan
juga memenuhi sebagian kebutuhan musimannya dengan “menyimpan likuiditas” dalam bentuk
sekuritas. Punggung bukit diatas garis putu-putus menggambarkan pendanaan jangka
pendek, sedangkan lembah dibawah gais putus-putus menggambarkan kepemilikian
atas sekuritas jangaka pendek. Kurva diatas mencerminkan suatu kebijakan
pendanaan aktiva lancar yang sangat aman dan konservatif.

Gambar
kurva pendekatan konservatif
2) Pendekatan
agresif
Kurva diatas menggambarkan situasi untuk
sebuah perushaan yang relatif agresif yang mendanai seluruh aktiva tetapnya
dengan modal jangka panjang dan sebagian dari aktivalancar permanenn dengan
kredit jangka panjang non spontan. Perhatikan bahwa istilah “secara relatif”
digunakan dalam judul kurva karena memang terdapat berbagai derajat keagresifan
yang berbeda-beda. Sebagai contoh, garis putus-ptus dalam kurva memiliki
kemungkinan untuk dapat digambarkan dibawah garis yang membatasi aktiva tetap,
yang artinya bahwa seluruh aktiva lancar permanen dan sebagian aktiva tetap
didanai dengan kredit jangka pendek; yang artinya adalah posisi yang sangat
agresif dan sangat non konservatif, dan perusahaan akan sepenuhnya berada di
dalam bahaya kenaikan tingkat suku bungan sekaligus masalah perpanjangan
pinjaman. Namun demikian, hutang jangka pendek seringkali lebih murah darpada
hutang jangka panjang, dan beberapa perusahaan bersedia mengorbankan kemanan
untuk mendapatkan peluang meraih keuntungan yang lebih tinggi.

Gambar kurva
pendekatan agresif
D. Alternatif
Kebijakan Modal dan Strategi Pendanaanya
Ada tiga kebijakan alternatif yang
berkaitan dengan jumlah total aktiva lancar, yaitu:
1. Kebijakan
investasi aktiva lancar longgar (relaxed
current asset investment / “fat cat”
policy) dimana kas, sekuritas, dan persediaan yang dimiliki berjumlah
relatif besar dan penjualan dirangsang oleh penggunaan kebijakan kredit yang
memberikan pendanaan secara liberal kepada para pelanggan dan mengakibatkan
tingkat piutang yang tinggi.
2. Kebijakan
investasi aktiva lancar ketat (restricted
current asset investment / “lean-and-mean” policy) dimana kepemilikan kas,
sekuritas, persediaan dan piutang diminimalkan. Menurut kebijakan ketat, aktiva
lancar diputar lebih sering, sehingga tiap dollar aktiva lancar dipaksa untuk
bekerja lebih keras.
3. Kebijakan
investasi aktiva lancar sedang (moderate
current asset policy) berada di antara kedua ekstrimitas tadi.
Dalam
kondisi yang pasti, yaitu ketika penjualan, biaya, tenggang waktu yang
dibutuhkan, periode pembayaran, dsb diketahui dengan pasti, seluruh perusahaan
hanya akan memiliki tingkat aktiva lancar minimal. Setiap jumlah yang lebi
besar akan meningkatkan kebutuhan pendanaan eksternal tanpa adanya kenaikan
dalam laba sebagai akibanya sedangkan kepemilikan yang lebih sedikit akan
mengakibatkan pembayaran yang terlambat kepada pemasok berikut hilangnya
penjualan karena kurangnya persediaan dan kebijakan kredit yang terlalu
membatasi.
Akan
tetapi, gambaran di atas akan berubah ketika ketidakpastian mulai
diperkenalkan. Disini perusahaan membutuhkan jumlah kas dan persediaan minimal
yang didasarkan pada perkiraan pembayaran, penjualan, tenggang waktu pemesanan,
dsb, plus tambahan kepemilikan atau persediaan pengaman, yang memungkinkan
perusahaan menghadapi penyimpangan dari nilai-nilai yang diperkirakan. Begitu
pula tingkat piutang yang ditentukan oleh ketentuan kredit, dan semakin ketat
ketentuan kreditnya maka semakin rendah piutang untuk setiap tingkat penjualan.
Dalam kebijakan investasi aktiva lancar ketat, perusahaan akan memiliki jumlah
minimal persediaan pengaman kas dan persediaan, dan juga akan memiliki
kebijakan kredit yang ketat meskipun hal ini artinya menanggung resiko
kehilangan penjualan. Kebijakan investasi aktiva lancar yang ketat dan ramping
umumnya memberikan ekspektasi pengembalian atas investasi yang paling tinggi,
tetapi dengan resiko yang lebih besar, sedangkan kebalikannya berlaku bagi
kebijakan yang longgar. Kebijakan sedang berada diantara kedua ekstrimitas tadi
dilihat dari segi ekspektasi resiko dan pengembalian.
|
Kebijakan
|
Aktiva
lancar untuk mendukung penjualan sebesar $100
|
Perputaran
aktiva lancar
|
|
Longgar
|
$30
|
3,3 x
|
|
Sedang
|
23
|
4,3 x
|
|
Ketat
|
16
|
6,3 x
|
E. Konsep
Modal Kerja Nol
Di dalam dunia kompetisi global yang ketat saat ini, manajemen modal
kerja menerima perhatian yang semakin besar dari para manajer yang mencoba
untuk meraih efisiensi maksimal. Bahkan pada kenyataannya, sasaran dari banyak
perusahaan unggulan saat ini adalah modal kerja nol. Para pendukung dari konsep
modal kerja nol mengklaim bahwa pergerakan kea rah tujuan ini tidak hanya
menciptakan kas tetapi juga mempercepat produksi dan membantu perusahaan
melakukan pengiriman tepat pada waktunya dan beroperasi secara lebih efisien.
Konsep ini memiliki definisi modal kerjanya sendiri: Persediaan + Piutang –
Utang. Dasar pemikirannya adalah (1) bahwa persediaan dan piutang adalah kunci
untuk menciptakan penjualan, tetapi (2) persediaan dapat didanai oleh pemasok
melalui utang dagang.
Secara rata-rata, perusahaan menggunakan 20 sen modal
kerjanya untuk setiap dollar penjualan. Jadi, secara rata-rata, modal kerja
akan berputar lima kali per tahun. Mengurangi modal kerja dan akibatnya
mempercepat perputaran akan memberikan dua keuntungan besar: Pertama, setiap
dollar yang dibebaskan dengan mengurangi persediaan atau piutang, atau dengan
meningkatkan utang, akan menghasilkan kontribusi satu kali pada arus kas.
Kedua, adanya suatu pergerakan ke arah modal kerja nol akan secara permanen
meningkatkan laba sebuah perusahaan. Seperti semua modal, dana yang
diinvestasikan pada modal kerja membutuhkan uang, sehingga mengurangi dana
tersebut akan secara permanen menghemat biaya modal. Sebagai tambahan dari
keuntungan keuangan, mengurangi modal kerja akan memaksa sebuah perusahaan
untuk berproduksi dan mengirimkan produknya lebih cepat dari para pesaing, yang
membantunya mendapatkan bisnis baru dan membebankan harga premium untuk
memberikan jasa yang lebih baik. Seiring dengan hilangnya persediaan, perusahaan
dapat menjual gudang-gudangnya, mengurangi baik kebutuhan tenaga kerja maupun
peralatan untuk penyimpanan, dan meminimalkan barang-barang yang sudah
ketinggalan zaman atau usang.
Sebagai gambaran keuntungan dari berusaha mencapai modal kerja nol,
dalam waktu hanya satu tahun Campbell Soup mampu menurunkan modal kerjanya
sebesar $80 juta. Perusahaan menggunakan kas untuk mengembangkan produk-produk
baru dan membeli perusahaan-perusahaan di Inggris, Australia, dan beberapa
Negara lainnya. Dan yang sama pentingnya, perusahaan memperkirakan akan
meningkatkan keuntungan tahunannya sebesar lebih dari $50 juta selama beberapa
tahun ke depan dengan memperkecil lembur tenaga kerja dan biaya penyimpanan.
Faktor yang paling penting dalam pergerakan ke arah modal kerja nol
adalah peningkatan kecepatan. Jika proses produksi cukup cepat, perusahaan
dapat memproduksi barang-barang ketika mereka dipesan daripada harus meramalkan
permintaan dan menumpuk persediaan dalam jumlah besar yang dikelola oleh
birokrasi. Perusahaan-perusahaan terbaik dapat memulai produksi setelah pesanan
diterima namun tetap mampu memenuhi persyaratan pengiriman pelanggannya. Sistem
ini dikenal dengan sebutan arus permintaan (demand flow), atau manajemen
berbasis permintaan (demand-based management), yang dikembangkan berdasarkan
metode pengendalian persediaan just-in-time. Namun begitu, manajemen arus
permintaan lebih daripada just-in-time, karena mengharuskan seluruh unsur dari
system produksi beroperasi dengan cepat dan efisien.
Mencapai modal kerja nol mengharuskan setiap pesanan dan bagian bergerak
pada kecepatan maksimal, yang biasanya memiliki arti mengganti kertas dengan
data elektronik. Kemudian, pesanan meluncur dari bagian pemrosesan ke pabrik,
lini produksi yang fleksibel memproduksi setiap produk setiap hari, dan barang
jadi hasil produksi akan mengalir langsung dari lini produksi ke truk-truk atau
gerbong kerta yang sudah menunggu. Bukannya memenuhi pabrik atau gudang dengan
persediaan, produk akan langsung bergerak ke dalam jalur pipa. Seiring dengan
peningkatan efisiensi, jumlah modal kerja juga akan menyusut.
Sudah jelas, tidak mungkin bagi kebanyakan perusahaan untuk mencapai
modal kerja nol dan produksi secara efisien yang tak terhingga. Meskipun
demikian, focus untuk meminimalkan piutang dan persediaan sambil memaksimalkan
utang akan membantu sebuah perusahaan memperkecil investasinya pada modal kerja
dan mencapai keekonomian keuangan dan produksi.
F.
Cash Conversion Cycle (Siklus Konversi
Kas)

1. Model
Siklus Konversi Kas
Model siklus konversi kas (cash conversion cycle model), yang berfokus pada rentang waktu yang
terjadi ketika perusahaan melakukan pembayaran dan menerima arus kas masuk.
Model ini menggunakan beberapa istilah sebagai berikut:
a.
Periode
Konversi Persediaan (Inventory
Conversion Period) adalah rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk
meengonversi bahan baku menjadi barang jadi dan kemudian menjual barang
tersebut. Perhatikan bahwa periode konversi persediaan dihitung dengan membagi
persediaan oleh jumlah penjualan perhari. Sebagai contoh, jika rata-rata
persediaan adalah $2 juta dan penjualan adalah $10 juta, maka periode konversi
persediaan adalah 73 hari:
Periode
konversi persediaan = 
=
=
73 hari
Jadi, perlu waktu rata-rata 73 hari untuk
mengonversi bahan baku menjadi barang jadi dan kemudian menjualnya.
b.
Periode
penerimaan piutang (receivable
conversion period) adalah rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk mengonversi
piutang perusahaan menjadi kas, yaitu untuk menerima kas setelag terjadi
penjualan. Periode penerimaan piutang disebut juga jumlah hari penjualan belum tertagih (day sales outstanding – DSO),
dan dihitung dengan membagi piutang oleh rata-rata penjualan kredit perhari.
Jika saldo piutang sebesar $657.534 dan penjualan sebesar $10.000.000, maka
periode penerimaan piutang adalah:
Periode
penerimaan piutang =DSO= 
=
=
24 hari
Jadi,
dibutuhkan waktu 24 hari setelah penjualan untuk mengonversi piutang menjadi
kas.
c.
Periode
penangguhan utang (payables
deferal method), adalah rata-rata waktu yang dibutuhkan untuk membeli bahan
baku dan tenaga kerja dan pembayarannya. Sebagai contoh, jika perusahaan
rata-rata memiliki waktu 30 hari untuk membayar tenaga kerja dan bahan baku,
jika harga pokok penjualannya sebesar $8 juta pertahun, dan jika rata-rata
saldo utang dagangnya adalah $657.534, maka periode penangguhan utangnya dapat
dihitung sebagai berikut:
Periode
penangguhan utang = 
= 
=

= 30 hari
Angka
hasil perhitungan di atas konsisten dengan periode pembayaran 30 hari yang ditetapkan.
d.
Siklus
Konversi Kas (cash
conversion cycle), yang menggabungkan ketiga periode yang baru saja
didefinisikan dan karenanya sama dengan rentang waktu diantara pengeluaran kas
aktual perusahaan untuk membayar sumber daya produktif (bahan baku dan tenaga
kerja) dan penerimaan kasnya sendiri dari penjualan produk (yaitu, waktu yang
dibutuhkan diantara membayar tenaga kerja dan bahan baku dan penerimaan
piutang). Jadi siklus konversi kas sama dengan rata-rata waktu uang senilai $1
terikat pada aktiva lancar. Sehingga siklus konversi kas dapat dinyatakan oleh
persamaan berikut:
![]() |
![]() |
||||||||||||
![]() |
![]() |
||||||||||||
Sebagai
gambaran, seandainya Real Time membutuhkan waktu rata-rata 73 hari untuk
megonversi bahan baku menjadi komputer dan kemudian menjualnya, dan 24 hari
lagi untuk menerima piutang. Namun, secara normal dibutuhkan waktu 30 hari
antara bahan baku dan pembayarannya. Dalam proses seperti ini, siklus konversi
kas adalah 67 hari:
Jumlah
hari dalam siklus konversi kas = 73 hari + 24 hari – 30 hari = 67 hari


atau
dengan cara lain:
2. Mempersingkat
Siklus Konversi Kas
Dengan
data-data di atas, RTC tahu kapan perusahaan mulai memproduksi komputer yang
biaya manufakturnya harus didanai selama jangka waktu 67 hari. Tujuan
perusahaan seharusnya adalah mempersingkat siklus konversi kas secepat mungkin
tanpa mengganggu operasi. Hal ini akan meningkatkan laba, karena semakin lama
siklus konversi kas, maka akan semakin tinggi kebutuhan pendanaan eksternal,
dan semakin besar biaya yang dibutuhkan.Siklus konversi kas dapat dipersingkat
dengan cara:
a. Mengurangi
periode konversi persediaan dengan memproses dan menjual barang secara lebih
cepat.
b. Mengurangi
periode penerimaan piutang dengan mempercepat penagihan.
c. Memperpanjang
periode penangguhan utang dengan memperlambat pembayaran yang dilakukan.
3. Berbagai
Keuntungan
Dimisalkan
RTC harus menghabiskan kurang lebih $197.250 bahan baku dan tenaga kerja untuk
memproduksi sebuah komputer, dan dibutuhkan waktu 9 hari untuk memproduksi
komputer tersebut. Jadi, perusahaan harus menginvestasikan $197.250 / 9 =
$21.917 untuk setiap hari produksi. Investasi ini harus didanai selama 67 hari –
waktu yang dibutuhkan untuk waktu konversi kas – sehingga kebutuhan pendanaan modal kerja
perusahaan akan menjadi 67 x $21.917 = $1.468.439.
Jika
RTC dapat memperkecil siklus konversi kasnya menjadi 57 hari, misalnya dengan
menangguhkan pembayaran utang dagangnya untuk tambahan 10 hari lagi, atau
dengan mempercepat proses produksi atau penerimaan piutang, maka RTC dapat
mengurangi kebutuhan pendanaan modal kerjanya sebesar 10 x $21.917 = $219.170.
BAB
III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Modal kerja adalah
suatu hal yang penting bagi perusahaan baik itu perusahaan berskala besar
maupun berskala kecil. Karena modal kerja adalah dana yang diperlukan dalam
biaya operasi sehari-hari yang diakibatkan terus berlangsungnya aktivitas
perusahaan dan merupakan suatu urgensi jika modal kerja kurang dalam suatu
perusahaan. Dalam pengaruh modal kerja juga melibatkan bagaimana perusahaan itu
terhadap nilai likuiditasnya dan tingkat profitabilitas yang dapat dicapai oleh
perusahaan. Karena modal kerja sendiri adalah kas, piutang, persediaan dan bisa
juga kas-kas berharga. Jadi jika dikaitkan dengan likuiditas adalah seberapa
jauh perusahaan dapat membayar hutang jangka pendeknya.
Modal kerja akan tetap
ada selama perusahaan itu terus menjalankan kegiaan operasinya. Dampak jika
modal kerja tidak ada akan menyebabkan aktivitas perusahaan mengalami kendala,
dan tersendatnya aktivitas operasi perusahaan. Jadi bagaimanapun perusahaan
itu, harus ada nominal modal kerja apapun itu dengan pendekatan-pendekatan
modal maupun alternatif kebijakan yang dapat diambil dan cara strategi
pendanaan yang tepat bagi perusahaan.
B. Saran
Modal kerja adalah dana yang harus ada karena untuk
membiayai semua aktivitas operasi perusahaan. Jadi, sebaiknya perusahaan baik
itu berskala bersar maupun berskala kecil harus memiliki yanng namanya modal
kerja. Karena modal kerja juga dapat menentukan tingkat likuiditas dan
profitabilitas suatu perusahaan.




Komentar
Posting Komentar